Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh sentral dalam sejarah pendidikan Indonesia. Ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional karena gagasannya yang revolusioner dalam merumuskan pendidikan yang memerdekakan manusia. Melalui pemikirannya, ia meletakkan dasar filosofi pendidikan Indonesia yang menekankan kemanusiaan, kebebasan berpikir, dan pembentukan karakter.
Salah satu konsep paling terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyan "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Artinya, di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Semboyan ini mencerminkan filosofi kepemimpinan dan pendidikan yang holistik, menempatkan guru atau pendidik sebagai fasilitator yang membangun, bukan memaksa. Ia percaya bahwa pendidikan seharusnya tidak mematikan kreativitas anak, melainkan membimbingnya tumbuh sesuai kodrat alam dan zamannya.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara berakar dari perjuangannya melawan sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan hanya diperuntukkan bagi kaum elite dan tidak menyentuh rakyat biasa. Melalui pendirian Taman Siswa pada tahun 1922, Ki Hajar menawarkan pendidikan alternatif yang menekankan kebangsaan, kebudayaan, dan kemandirian. Ia percaya bahwa pendidikan harus menyatu dengan kehidupan dan budaya masyarakatnya, bukan sekadar meniru sistem asing.
Visinya tentang pendidikan sangat relevan hingga kini, terutama dalam konteks merdeka belajar. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang berpusat pada peserta didik, menghargai potensi dan keunikan masing-masing anak. Tujuan utama pendidikan, menurutnya, adalah membentuk manusia seutuhnya yang merdeka dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan bangsanya.
Ki Hajar Dewantara tidak hanya berperan sebagai pemikir, tetapi juga sebagai pelaku perubahan. Ia membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi alat perjuangan untuk kemerdekaan dan pembebasan manusia dari belenggu kebodohan serta ketidakadilan. Oleh karena itu, pemikirannya menjadi ujung tombak yang menuntun arah pendidikan nasional, tidak hanya pada masa lalu, tetapi juga sebagai landasan bagi pembangunan pendidikan Indonesia masa depan.
Komentar
Posting Komentar