Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Januari selalu hadir sebagai awal atau permulaan. Bulan Januari bukan pula sekedar penanda pergantian masa, tetapi merupakan momentum refleksi dan penataan ulang niat. Bagi kami sebagai guru madrasah, Januari adalah kesempatan emas untuk memulai perubahan bermakna dalam proses pendidikan. Januari sebagai awal perubahan berarti memulai semester dengan komitmen baru: menghadirkan pembelajaran yang humanis. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menumbuhkan rasa aman, dihargai, dan dicintai pada diri peserta didik. Cinta dalam kurikulum terwujud melalui bahasa yang santun, kesabaran dalam membimbing, keadilan dalam menilai, serta kepekaan terhadap kebutuhan belajar siswa. Di titik inilah Kurikulum Berbasis Cinta menemukan relevansinya: sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan kasih sayang, empati, dan keteladanan sebagai pondasi utama pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa peserta didik bukan hanya objek transfer ilmu, mel...