Langsung ke konten utama

Postingan

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Postingan terbaru

MENJADIKAN JANUARI SEBAGAI AWAL PERUBAHAN “BERSAMA KURIKLUM BERBASIS CINTA” / Iin Indrawati, S.Pd.

Januari selalu hadir sebagai awal atau permulaan.  Bulan Januari bukan pula sekedar penanda pergantian masa, tetapi merupakan momentum refleksi dan penataan ulang niat. Bagi kami sebagai guru madrasah, Januari adalah kesempatan emas untuk memulai perubahan bermakna dalam proses pendidikan. Januari sebagai awal perubahan berarti memulai semester dengan komitmen baru: menghadirkan pembelajaran yang humanis. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menumbuhkan rasa aman, dihargai, dan dicintai pada diri peserta didik. Cinta dalam kurikulum terwujud melalui bahasa yang santun, kesabaran dalam membimbing, keadilan dalam menilai, serta kepekaan terhadap kebutuhan belajar siswa. Di titik inilah Kurikulum Berbasis Cinta menemukan relevansinya: sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan kasih sayang, empati, dan keteladanan sebagai pondasi utama pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa peserta didik bukan hanya objek transfer ilmu, mel...

Kurikulum berbasis cinta mencetak generasi yang berkarakter/ by Siti Fathimah

Pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari guru kepada siswa, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan. Di sinilah pentingnya kurikulum berbasis cinta. Kurikulum ini mengajarkan bahwa belajar harus dimulai dari rasa aman, dihargai, dan disayangi. Ketika siswa merasa dicintai, mereka akan lebih mudah menerima ilmu dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Kurikulum berbasis cinta menempatkan kasih sayang sebagai dasar pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan. Sikap ramah, sabar, dan peduli menjadi kunci dalam membangun hubungan yang harmonis di kelas. Dengan suasana seperti itu, siswa tidak takut bertanya, tidak malu mencoba, dan berani berpendapat. Dalam praktiknya, kurikulum ini terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti menyapa siswa setiap pagi, mendengarkan keluhan mereka, memberi motivasi saat gagal, serta mengapresiasi setiap usaha. Pembelajaran tidak lagi kaku, tetapi penuh makna karena dikaitkan dengan n...

Dari Laboratorium Komputer Menuju Laboratorium Karakter: Semangat Baru Pembelajaran Informatika Berbasis Cinta di Awal Tahun / Alfi Filsafalasafi

Awal tahun ajaran yang dimulai pada bulan Januari bukan sekadar pergantian waktu, tetapi momentum strategis untuk membangun semangat dan arah baru dalam pendidikan. Bagi guru Informatika di MTsN 7 Jember, Januari menjadi titik tolak untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta . Di laboratorium komputer, tempat siswa berinteraksi dengan perangkat digital, nilai-nilai kemanusiaan justru harus semakin dikuatkan. Pembelajaran Informatika sering kali dipandang sebatas praktik menggunakan komputer, aplikasi perkantoran, internet, atau pengenalan jaringan. Padahal, di balik layar monitor, ada proses pendidikan yang lebih dalam: membentuk sikap siswa terhadap teknologi dan terhadap sesama. Kurikulum berbasis cinta mengajak guru untuk mengedepankan empati, kesabaran, perhatian, serta penghargaan terhadap setiap proses belajar siswa. Ini sangat relevan di l...

Hadiah di Bulan Januari di Tahun 2026 Bersama Kurikulum Berbasis Cinta/Sujarwati, S.Pd.

Alhamdulillah dalam keadaan sehat dan bugar  sehingga kami dapat memulai awal semester genap di awal tahun 2026 dan awal bulan Januari  dengan semangat yang baru. Di awal bulan Januari 2026 mendapat hadiah  untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik  yaitu Kurikulum berbasis cinta. Kurikulum berbasis cinta menjadi landasan kami dalam mengajar dan mendidik anak-anak bangsa. Kami percaya bahwa cinta adalah kunci untuk membuka hati dan pikiran mereka, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih baik dan menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tugas kami tidak hanya sekedar mengajar, tapi juga mendidik dan membimbing anak-anak bangsa menjadi generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi. Kami tetap semangat dan berjuang demi anak bangsa, meskipun dihadapkan dengan berbagai kurikulum dan tantangan. Sebelum menghadapi kurikulum berbasis cinta, guru-guru kami dikenalkan melalui workshop yang intensif dan interaktif. Works...

Harapan Baru Pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta / Nike Kusumawardani, S. Pd

Pendidikan merupakan pondasi utama dalam membentuk masa depan bangsa. Melalui pendidikan, nilai, pengetahuan, dan karakter ditanamkan sejak dini kepada generasi penerus. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus memperhatikan sisi kemanusiaan dalam proses pembelajaran. Di awal tahun ini, dunia pendidikan menyambut harapan baru melalui penerapan kurikulum berbasis cinta. Kurikulum ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan akan pendidikan yang lebih manusiawi, hangat, dan bermakna. Cinta menjadi landasan utama dalam membangun hubungan antara guru, peserta didik, dan lingkungan belajar. Kurikulum berbasis cinta menempatkan peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran. Setiap anak dipandang sebagai pribadi yang unik dengan latar belakang, potensi, dan kebutuhan yang berbeda. Dengan pendekatan ini, guru diharapkan mampu mengajar dengan penuh kesabaran, empati, serta penghargaan terhadap keberagaman. Peran gu...

Januari 2026 sebagai Awal Transformasi: Matematika Humanis dalam Kurikulum Berbasis Cinta / Eko Budi Setiyadi, S.Pd., M.Pd.

Januari 2026 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk melakukan transformasi pembelajaran yang lebih berpusat pada manusia. Bagi guru Matematika, awal tahun ini bukan hanya waktu menyusun perangkat ajar baru, tetapi juga kesempatan merefleksikan kembali makna mengajar. Matematika tidak lagi cukup dipahami sebagai kumpulan angka dan rumus, melainkan sebagai sarana membangun nalar, karakter, dan kemanusiaan peserta didik melalui kurikulum berbasis cinta. Selama bertahun-tahun, Matematika sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang kering, sulit, dan jauh dari kehidupan nyata siswa. Tidak sedikit peserta didik merasa cemas bahkan takut ketika berhadapan dengan angka. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan humanis dalam pembelajaran Matematika, yakni pendekatan yang memandang siswa sebagai individu utuh dengan perasaan, pengalaman, dan potensi yang beragam. Kurikulum berbasis cinta hadir untuk menjembatani kebutuhan akademik dan kebutuhan emosional siswa secara seimba...