Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Makna Kurban di Balik Idul adha di MTsN 7 Jember
mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam, sejalan dengan esensi perayaan Idul Adha dalam Islam.
Pertama, kurban mengajarkan tentang ketaatan dan pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim AS yang siap mengorbankan putranya, Ismail AS, sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT, menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meneladani ketulusan dalam menjalankan perintah-Nya.
Kedua, kurban mempererat solidaritas sosial. Dengan membagikan daging kurban kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, umat Islam menunjukkan kepedulian terhadap sesama.
Selain itu, kurban juga merupakan bentuk pendidikan karakter. Melalui pelaksanaan kurban, siswa diajak untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai seperti keikhlasan, tanggung jawab, dan empati.
Dengan demikian, kurban di MTsN 7 Jember bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai sarana pendidikan yang menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri siswa.
Komentar
Posting Komentar