Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Pembiasaan Nilai Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia untuk Siswa Madrasah Tsanawiyah / Enki Dani N. S.Pd. M.Pd.
Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Di jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), penanaman nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan secara terus-menerus melalui kegiatan pembiasaan agar tertanam kuat dalam sikap dan perilaku siswa. Pembiasaan ini bukan hanya dilakukan dalam bentuk hafalan, melainkan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai Pancasila, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dapat dikembangkan melalui aktivitas harian siswa. Misalnya, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dapat dibiasakan melalui pelaksanaan shalat berjamaah, membaca doa sebelum dan sesudah kegiatan belajar, serta meningkatkan rasa syukur dan toleransi antar umat beragama.
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dapat ditanamkan melalui kegiatan bakti sosial, empati kepada teman yang mengalami kesulitan, dan gotong royong. Selain itu, pembiasaan nilai Persatuan Indonesia dapat dilakukan dengan menjunjung semangat kebersamaan dan menghargai keberagaman suku, budaya, maupun pendapat dalam diskusi.
Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan dapat dilatih melalui pemilihan ketua kelas atau pengambilan keputusan dalam organisasi siswa. Sedangkan nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat ditanamkan melalui pembagian tugas secara adil, serta kesadaran menjaga fasilitas madrasah untuk kepentingan bersama.
Melalui pendekatan pembiasaan yang konsisten dan didukung oleh seluruh unsur madrasah, guru, kepala madrasah, dan orang tua, kesadaran ber-Pancasila tidak hanya menjadi slogan, melainkan menjadi jati diri siswa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Kesadaran ini akan menjadi pondasi kokoh bagi siswa dalam menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
Komentar
Posting Komentar