Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Embun Gungam | Muhammad Pandu Syarifuddin, S.Pd.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti lereng Gunung Gambir. Udara sejuk menyapa kulit, membawa aroma khas pegunungan yang segar dan menenangkan. Suara burung bernyanyi bersahutan di antara pepohonan rindang, seakan menyambut setiap langkah menuju puncak.
Gunung Gambir, yang terletak di wilayah Jember, Jawa Timur, memang bukan gunung tertinggi, namun pesonanya mampu memikat siapa saja yang mendambakan kedamaian alam. Di sepanjang jalan setapak, hamparan kebun teh terbentang luas bagai permadani hijau yang menenangkan mata. Para petani tampak sibuk memetik pucuk teh, memberikan nuansa kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Semakin tinggi mendaki, panorama alam kian menakjubkan. Dari gardu pandang, tampak lekuk-lekuk perbukitan yang berselimut kabut pagi. Langit biru membentang luas, sesekali dihiasi awan putih yang melayang pelan. Suasana hening, hanya ditemani angin lembut yang berbisik di sela-sela dedaunan.
Di puncaknya, kita bisa menyaksikan matahari perlahan muncul dari balik pegunungan. Sinar keemasan menyapu wajah bumi, menciptakan siluet pepohonan yang dramatis dan penuh keindahan. Rasanya seperti berada di negeri di atas awan — damai, tenang, dan menggetarkan jiwa.
Gunung Gambir bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang untuk merenung, menyatu dengan alam, dan menemukan kembali ketenangan yang kerap hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Setiap detik yang dihabiskan di sana adalah momen berharga yang menumbuhkan rasa syukur atas keindahan ciptaan Tuhan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...