Langsung ke konten utama

Mempererat tali silaturrahmi di hari raya idul fitri 1447 H

Hari raya idul fitri merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, lebih dari sekadar perayaan kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga.Idul fitri memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu sebagai waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesama.   Pada hari yang penuh kebahagiaan ini, umat Islam saling mengucapkan selamat idul fitri dan memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja. Tradisi saling memaafkan ini mencerminkan nilai-nilai keikhlasan, kerendahan hati, serta keinginan untuk memulai kembali hubungan yang lebih baik dengan hati yang bersih.   Silaturrahmi pada hari raya biasanya dilakukan dengan berbagai cara. Banyak orang yang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar. Momen berkumpul ini menjadi kesempatan berharga untuk mempererat hubungan antara o...

Liburan Asik dengan Sehari Tanpa Gadget / Dendie Bagus Windiar


Sebagai seorang guru, saya sering kali mendengar keluhan dari orang tua tentang anak-anak mereka yang terlalu sibuk dengan gadget, bahkan saat liburan. Tidak sedikit siswa yang ketika ditanya tentang kegiatan liburannya hanya menjawab, "Main HP, Bu," atau "Nonton YouTube, Pak." Jujur saja, saya merasa prihatin. Padahal, masa liburan adalah waktu yang sangat berharga untuk mengembangkan diri di luar pelajaran sekolah.

Karena itu, saat menjelang liburan semester lalu, saya memberikan tantangan kecil kepada para siswa: "Coba habiskan satu hari penuh tanpa gadget!". Saya minta mereka menuliskan pengalaman mereka dan akan kami bahas bersama setelah liburan berakhir.

Tak saya sangka, banyak cerita menarik yang muncul. Ada siswa yang menghabiskan hari dengan membantu orang tuanya memasak, ada yang mengajak adiknya bermain tradisional, bahkan ada yang mengunjungi neneknya dan mendengarkan cerita masa lalu. Mereka mengaku awalnya merasa bosan, tapi setelah mencoba, ternyata kegiatan tanpa gadget justru membuat mereka merasa lebih bahagia dan lebih dekat dengan keluarga.

Saya pun merasa sangat senang membaca tulisan-tulisan mereka. Tantangan sederhana ini ternyata membuka mata mereka bahwa dunia nyata jauh lebih luas dan indah dibandingkan layar 6 inci. Anak-anak jadi lebih aktif, lebih kreatif, dan yang paling penting—lebih terhubung dengan orang-orang di sekitar mereka.

Sebagai guru, saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus diterapkan, tidak hanya saat liburan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Sehari tanpa gadget bukan berarti ketinggalan zaman, tetapi justru bisa menjadi momen untuk menyegarkan pikiran, menumbuhkan empati, dan mempererat hubungan sosial.

Liburan yang asik bukan tentang ke mana kita pergi atau gadget apa yang kita punya, tapi tentang bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang bermakna. Dan terkadang, hal paling sederhana justru bisa menjadi yang paling berkesan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...