Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

"Di Bawah Langit Merdeka"⛅❤๐Ÿค / by: "Shela Aulia Ananta" IX'B




Merah Putih – Negeriku Indonesia❤๐Ÿค

Di depan sekolah kecil yang sederhana, selembar kain merah dan putih perlahan naik ke ujung tiang. Semua murid berdiri tegak, tangan kanan menempel di dada, mata menatap bendera yang berkibar gagah.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya selembar kain. Tapi bagiku, Merah Putih adalah jiwa.
•Merah adalah keberanian – darah para pahlawan yang rela gugur demi tanah yang kini kita pijak. Mereka tidak mengenal takut. Mereka tidak bertanya "untuk apa?" saat maju ke medan perang. Mereka hanya tahu satu hal: Indonesia harus merdeka.
•Putih adalah kesucian – hati yang tulus membangun negeri ini, meski dengan peluh dan air mata. Dari petani yang bangun sebelum fajar, hingga guru di pelosok yang mengajar dengan kapur dan papan reyot. Mereka adalah penopang merah putih, meski nama mereka tak tercatat di buku sejarah.

Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya pulau Jawa. Indonesia adalah suara gamelan di Solo, tari Saman di Aceh, aroma rempah di pasar Ambon.
Dari Sabang sampai Merauke, kita bukan sekedar berbeda kita adalah satu dalam keberagaman.

Namun, menjadi Indonesia bukanlah perkara mudah. Kita pernah dijajah, dipisah, diadu domba. Tapi setiap kali kita jatuh, kita bangkit. Setiap luka, kita obati bersama. Setiap tantangan, kita hadapi sebagai saudara.

Aku bangga menjadi anak Indonesia. Karena di tanah ini, aku belajar arti gotong royong. Aku belajar menghargai perbedaan. Aku belajar bahwa perjuangan belum selesai, tapi generasi kami siap melanjutkan.
Merah Putih bukan hanya dikibarkan saat upacara. Ia hidup dalam tindakan kita: saat kita jujur, bekerja keras, dan memilih berdiri untuk yang benar. Karena menjadi Indonesia bukan hanya tentang lahir di sini, tapi tentang mencintainya dalam tindakan nyata. 

Hari ini…
Kita berdiri di bawah langit merdeka.
Langit yang dulu dipenuhi suara tembakan,
Kini berganti tawa anak-anak Indonesia.
Langit yang dulu menyimpan tangis dan luka,
Kini memayungi harapan dan cita-cita.

Hari ini, Kita kibarkan Merah Putih.
Bukan sekadar kain dua warna,
Tapi simbol keberanian dan kesucian.
Merah adalah darah para pejuang,
Putih adalah niat tulus para pendiri bangsa.

Negeri ini berdiri bukan karena hadiah,
Tapi karena pengorbanan.
Peluh petani, keringat buruh, semangat guru,
Dan darah para pahlawan yang gugur tanpa pamrih.

Kita mungkin tak lagi mengangkat senjata,
Tapi perjuangan belum selesai.
Sekarang, kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.
Kita berjuang lewat kerja nyata, kejujuran, dan persatuan.

Hari ini,
Kita rayakan kemerdekaan bukan sekadar pesta.
Tapi sebagai janji _
Janji untuk menjaga Indonesia,
Agar tetap merdeka, adil, dan sejahtera.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! 
Jayalah selalu, 
Negeriku Indonesia. 
MERDEKA!!!๐Ÿ’ช๐Ÿผ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ❤๐Ÿค

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...