Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

HUBBUL WATHONI MINAL IMAN/HASIT YASIN


Hubbul Wathoni Minal Iman: adalah sebuah perwujudan kometmen seseorang yang menunjukkan rasa cintanya kepada tanah air, hal ini tidak lagi menjadi hal yang perlu diperbincangkan,tidaklagi mejadi hal yang tabu dan tidak lagi mejadi hal yang  baru,karena rasa cinta seseorang kepada tanah airnya merupakan sebuah respon hati terhadap kebesaran anugerah Allah yang telah banyak dinikmatinya.Manusia dengan segala kebutuhan hidupnya tidak terlepas dengan alam, manusia bisa hidup tidak terlepas dengan alam,manusia bisa berusaha untuk mencari kebahagiaan hidupnya  didunia dan akhirat, juga tidak terlepas dengan alam dan bahkan segala kebutuhan hidup manusia juga tidak terlepas dengan alam, hal ini memang telah menjadi kodrati manusia terhadap alam sebagaimana  al qur'an juga menyetinya dengan kalimat. Huwalladzi kholaqolakum mafil ardi jami'an yang artinya Dialah Allah yang telah menciptakan alam beserta isinya hanya untuk kepentingan hidup  manusia.oleh karenanya bila manusia tidak lagi cinta dengan alam maka sudah barang tentu manusia semacam itu bisa dikatakan tidak lagi cinta terhadap dirinya sendiri.

Ungkapan "Hubbul Wathoni Minal Iman" yang berarti "Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman" sering dikutip oleh para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam mengajak umat Islam untuk mencintai, menjaga, dan membela tanah airnya. Meskipun hadis ini diperdebatkan keabsahannya secara sanad, namun maknanya sangat mulia dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.

 

Dalam Islam, iman tidak hanya dimanifestasikan dalam hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia dan lingkungan, termasuk negara tempat tinggal. Tanah air adalah tempat lahir, tempat tumbuh, tempat mencari ilmu dan nafkah, serta tempat kita membina keluarga. Maka mencintainya adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab moral yang tinggi.

 

Cinta tanah air bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain menjaga keamanan dan ketertiban, menaati hukum yang berlaku, berkontribusi dalam pembangunan, melestarikan lingkungan, serta melawan ancaman dari pihak luar yang ingin merusak kedaulatan negara. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW sendiri menunjukkan kecintaannya terhadap tanah airnya, Makkah. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau bersabda bahwa andai tidak diusir, beliau tidak akan meninggalkan Makkah. Ini adalah bukti bahwa mencintai tanah air adalah fitrah manusia yang juga diakui dalam ajaran Islam.

 

Di Indonesia, semangat "Hubbul Wathoni Minal Iman" sangat relevan, terlebih dalam masyarakat yang majemuk. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap eksklusif atau menolak keberagaman. Justru, cinta tanah air harus diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan memperjuangkan keadilan sosial. Mengabdi kepada negara, berpartisipasi dalam pembangunan, dan menjadi warga negara yang baik adalah bagian dari manifestasi iman.

 

Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita menginternalisasi nilai-nilai keimanan melalui kontribusi nyata bagi negeri ini. Pendidikan, kerja keras, kedisiplinan, dan kejujuran adalah bentuk cinta tanah air yang nyata. Kita tidak boleh hanya membanggakan negara saat meraih kemenangan, tetapi juga turut serta memperbaiki ketika negara menghadapi masalah.

 

Akhirnya, Hubbul Wathoni Minal Iman bukan sekadar slogan, tetapi prinsip hidup. Mencintai tanah air adalah wujud keimanan yang harus terpatri dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan nyata demi kemajuan dan kejayaan bangsa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...