Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Defisiensi Etika dan Estetika dalam Pembelajaran, Akankah Terjadi? / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Pembelajaran sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan juga pembentukan karakter dan penghargaan terhadap nilai-nilai keindahan hidup. Dua aspek penting yang seharusnya tidak dipisahkan dari praktik pendidikan adalah etika dan estetika. Etika berhubungan dengan moral, sikap, dan perilaku yang mencerminkan tanggung jawab serta integritas. Estetika, di sisi lain, berkaitan dengan apresiasi terhadap keindahan, kreativitas, dan harmoni dalam proses belajar. Pertanyaan yang muncul kemudian: "Apakah mungkin terjadi defisiensi atau kekurangan serius dalam aspek etika dan estetika di dunia pembelajaran?"


Defisiensi etika dalam pembelajaran dapat terlihat dari berkurangnya kejujuran akademik, seperti maraknya plagiarisme, kecurangan saat ujian, hingga sikap tidak menghargai guru dan teman. Jika dibiarkan, hal ini akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral. Pendidikan kehilangan maknanya ketika hanya mengejar hasil, tanpa menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab dan empati.

Sementara itu, defisiensi estetika tampak ketika proses pembelajaran kering dari kreativitas, inovasi, dan rasa keindahan. Ruang belajar yang monoton, metode pengajaran yang kaku, serta materi yang disampaikan tanpa sentuhan imajinasi membuat siswa sulit merasakan kebahagiaan dalam belajar. Padahal, estetika penting untuk menumbuhkan semangat, motivasi, dan kemampuan berpikir kreatif. Belajar tanpa estetika hanya akan menghasilkan rutinitas mekanis yang membosankan.

"Akankah defisiensi etika dan estetika benar-benar terjadi?" Jawabannya bergantung pada kesadaran bersama. Jika pendidikan hanya dipandang sebagai alat mengejar nilai atau karier, kemungkinan besar defisiensi tersebut tidak terelakkan. Namun, jika guru, siswa, dan institusi pendidikan berkomitmen menjaga keseimbangan antara pengetahuan, moralitas, dan keindahan, maka pembelajaran dapat tetap utuh dan bermakna.

Oleh karena itu, solusi yang diperlukan adalah mengintegrasikan etika dan estetika dalam setiap aspek pembelajaran. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan etika. Kurikulum tidak sekadar memuat fakta, tetapi juga memberi ruang bagi seni, imajinasi, dan penghargaan terhadap keindahan. Dengan demikian, pendidikan mampu melahirkan manusia seutuhnya: cerdas, beretika, dan berestetika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...