Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Saya percaya dengan diriku sendiri untuk bisa mempunyai etika yang baik dan selalu berusaha menjadi yang terbaik disekolah dan dimanapun untuk membangun kepercayaan dan menumbuhkan rasa saling menghargai dimanapun.
Untuk itu saya ingin mempunyai kedisiplinan dan bertanggung jawab selain itu saya ingin mempunyai sifat kedisiplinan seperti baju harus dirapikan agar tidak terlihat berantakan, dan saya selalu berusaha untuk menjadi mahasiswa yang datang sekolah tepat waktu.
Saya selalu suka untuk menghargai dan menghormati guru, teman, maupun yang adiwiyata kebersihan. Dan saya juga suka saling tolong menolong, jujur, disiplin, dan berbagai ilmu kepada semua yaitu guru, teman, dan adiwiyata kebersihan lingkungan.
Selain itu saya tidak suka perbuatan yang tidak saya sukai yaitu bullying, saya ingin menciptakan lingkungan yang aman karena aman akan membuatku terasa nyaman ketika di lingkungan sekolahku.
Komentar
Posting Komentar