Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Karnaval Desa Umbulrejo Dengan teatrikal Romusha /Ridho azza Amirul fatta _9A

Umburejo – Suasana Desa Umburejo berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu pagi (tanggal 30 Agustus 2025), saat warga dari berbagai penjuru desa memadati jalan utama untuk mengikuti karnaval budaya tahunan. Tahun ini, karnaval mengangkat tema yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya — "Napak Tilas Sejarah Bangsa", dengan fokus khusus pada kisah Romusha, sebuah babak kelam dalam sejarah penjajahan Jepang di Indonesia.

Salah satu penampilan paling menyita perhatian datang dari kelompok pemuda Dusun Sidomulyo RT 13 RW 13), yang secara dramatis membawakan teatrikal Romusha. Dengan kostum lusuh, tubuh penuh bedak menyerupai keringat dan debu, serta wajah yang memancarkan kelelahan, mereka memerankan para pekerja paksa yang dipekerjakan secara brutal oleh penjajah Jepang pada masa Perang Dunia II.

Barisan ini dibuka dengan suara pukulan bambu dan teriakan tentara Jepang (diperankan oleh peserta karnaval), mengiringi "buruh Romusha" yang membangun rel kereta api,dan ada ibu-ibu untuk memberi makan rakyat jelata tetapi oleh tentara jepang ditendang makanya hingga makanannya tumpah.

Meskipun tema Romusha membawa nuansa serius, karnaval tetap menjadi panggung beragam kreativitas. Barisan lain menampilkan budaya lokal seperti tari jathilan, barongan, reog, dan pakaian adat Nusantara, menciptakan harmoni antara edukasi sejarah dan kekayaan tradisi Beberapa kelompok memilih menggabungkan unsur modern dan tradisional, seperti kendaraan hias yang menggambarkan transisi dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan — lengkap dengan bendera merah putih dan lagu perjuangan yang menggema sepanjang rute.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...