Langsung ke konten utama

Mempererat tali silaturrahmi di hari raya idul fitri 1447 H

Hari raya idul fitri merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, lebih dari sekadar perayaan kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga.Idul fitri memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu sebagai waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesama.   Pada hari yang penuh kebahagiaan ini, umat Islam saling mengucapkan selamat idul fitri dan memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja. Tradisi saling memaafkan ini mencerminkan nilai-nilai keikhlasan, kerendahan hati, serta keinginan untuk memulai kembali hubungan yang lebih baik dengan hati yang bersih.   Silaturrahmi pada hari raya biasanya dilakukan dengan berbagai cara. Banyak orang yang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar. Momen berkumpul ini menjadi kesempatan berharga untuk mempererat hubungan antara o...

Mengenal Lebih Dekat Aksara Jawa Bersama Museum Huruf/Riski Fidiana, S.Pd., Gr.

Proses belajar seseorang tidak terbatas pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kita dapat belajar dari mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Pada kesempatan kali ini, saya mendapatkan pengalaman untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman dari Museum Huruf Jember. Museum Huruf Jember adalah museum khusus yang memberikan informasi tentang aksara dan dialektik dari beragam masyarakat di Nusantara. Saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi narasumber Workshop Aksara Jawa dan Cukil Kayu yang dilaksanakan pada 5 September 2025 di Museum Huruf Jember dalam rangka memperingati Hari Aksara Nusantara Tahun 2025 dan Pekan Aksara ke-8.

Kesempatan ini saya gunakan untuk berbagi pengalaman dan ilmu dengan teman-teman Museum Huruf tentang makna filosofis aksara Jawa, cara menulis aksara Jawa, dan pelatihan mencukil atau memahat aksara Jawa di media kayu dan kerdus. Aksara Jawa yang kita kenal sekarang ini bukan hanya sekadar huruf untuk menulis saja, tetapi memiliki nilai filosofis dan sejarah yang panjang, bermula dari aksara Kawi  yang merupakan turunan aksara Pallawa dari India. Pada zaman dulu, aksara Jawa digunakan sebagai aksara tulis untuk menuliskan  berbagai karya sastra, dokumen kerajaan, hingga manuskrip keagamaan.

Selain berguna sebagai aksara tulis, aksara Jawa juga memiliki nilai estetika dan filosofis yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Misalnya adalah penulisan aksara Jawa yang ditulis lima mendatar dan sebanyak empat baris. Hal ini bukan hanya sekadar penataan tanpa makna, tetapi  berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Jawa yaitu sedulur papat kalima pancer.

Sedulur papat kalima pancer: empat saudara dan penuntun sebagai saudara kelima. Nafsu empat adalah amarah, luamah, supiyah, dan mutmainah. Amarah dilambangkan oleh buta Rambut Geni, supiyah oleh buta Cakil, luamah oleh Kala Pragalba, dan mutmainah oleh buta Terong. Keempat buta tersebut selalu kadang menghadang seorang satria yang baru pulang dari hutan setelah menemui bertapa atau menemui gurunya. Hal ini melambangkan seorang manusia yang mempunyai tujuan akan selalu mendapatkan godaan, ada selalu menghalangi langkahnya. Dalam filsafat Jawa, baik-buruknya tingkah laku manusia selalu dikaitkan dengan berbagai keinginan yang berhubungan dengan nafsu amarah, luamah, supiyah, dan mutmainah. Nafsu mutmainah selalu berhadapan dengan nafsu amarah, luamah dan supiyah. Perbuatan baik selalu mendapatkan halangan atau godaan yang lebih banyak. Dalam hal ini satu berbanding dengan tiga. Meskipun demikian, nafsu adalah hal wajar yang dimiliki oleh manusia, hasilnya adalah tergantung dari bagaimana manusia tersebut dapat mengendalikan nafsu-nafsunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...