Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Merah Putih. Merah putih bukan hanya dua warna yang dijahit di atas selembar kain. Ia adalah saksi bisu perjuangan, tangisan, dan darah yang tertumpah di bumi pertiwi. Setiap helai benangnya seolah menyimpan jeritan rakyat Indonesia dulu yang berlari di medan tempur, menantang maut demi sebuah kata "Merdeka!"
Merah adalah keberanian yang menyala. Warna itu seakan menyala-nyala, mengingatkan kita pada darah yang pernah tertumpah, pada semangat yang tak pernah gentar menghadapi peluru dan meriam. Putih adalah kesucian, dan lambang hati yang tulus, niat untuk melihat negeri ini berdiri tegak tanpa belenggu. Bersatu, keduanya berubah seolah-olah menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan, yang mampu menyatukan beragam suku, bahasa, dan budaya di bawah satu panji "Indonesia".
Kini, kita tak lagi berperang di medan perang dengan senjata. Tapi perjuangan belum usai. Lawan kita hanya menjaga persatuan, dan perpecahan. Merah Putih menatap kita dari ujung tiang bendera, seolah berbisik "Apa yang sudah kamu lakukan untuk negeri ini?" Pertanyaan itu menusuk hati, mengingatkan bahwa menjaga Merah Putih bukan hanya berdiri tegak saat upacara, melainkan juga tercermin pada sikap, berbuat jujur, dan tetap menjaga persatuan negri ini.
Setiap kali bendera itu berkibar di langit biru, semestinya dada kita bergetar. Sebab ia bukan kain biasa ia adalah roh bangsa, nafas perjuangan, dan janji yang diwariskan dari masa lalu. Selama Merah Putih masih berkibar, selama itu pula semangat Indonesia tak akan pernah padam.
Merah adalah keberanian yang menyala. Warna itu seakan menyala-nyala, mengingatkan kita pada darah yang pernah tertumpah, pada semangat yang tak pernah gentar menghadapi peluru dan meriam. Putih adalah kesucian, dan lambang hati yang tulus, niat untuk melihat negeri ini berdiri tegak tanpa belenggu. Bersatu, keduanya berubah seolah-olah menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan, yang mampu menyatukan beragam suku, bahasa, dan budaya di bawah satu panji "Indonesia".
Kini, kita tak lagi berperang di medan perang dengan senjata. Tapi perjuangan belum usai. Lawan kita hanya menjaga persatuan, dan perpecahan. Merah Putih menatap kita dari ujung tiang bendera, seolah berbisik "Apa yang sudah kamu lakukan untuk negeri ini?" Pertanyaan itu menusuk hati, mengingatkan bahwa menjaga Merah Putih bukan hanya berdiri tegak saat upacara, melainkan juga tercermin pada sikap, berbuat jujur, dan tetap menjaga persatuan negri ini.
Setiap kali bendera itu berkibar di langit biru, semestinya dada kita bergetar. Sebab ia bukan kain biasa ia adalah roh bangsa, nafas perjuangan, dan janji yang diwariskan dari masa lalu. Selama Merah Putih masih berkibar, selama itu pula semangat Indonesia tak akan pernah padam.
Komentar
Posting Komentar