Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Matahari pagi di hari minggu 17 Agustus 2025 mulai memancarkan sinarnya, menyiratkan kehangatan yang lembut di Lapangan Gunungsari. Para siswa dan guru MTsN 7 Jember mulai berbaris dengan rapi, membentuk formasi yang teratur. Seragam putih khas MTsN 7 Jember dan juga seragam dari sekolah lain yang mereka kenakan tampak begitu kontras dengan hamparan hijau lapangan, menciptakan pemandangan yang menyejukkan mata. Di tengah lapangan, tiang bendera berdiri tegak, seolah menunggu momen agung untuk mengibarkan Sang Merah Putih.
Sebelum upacara di mulai ada pertunjukkan atraksi dari SMAN 1 Umbulsari berupa drumband dan dari SMPN 1 Umbulsari berupa paduan suara.
Setelah atraksi tepat pukul setengah delapan pagi upacara dimulai, sang komandan upacara memasuki lapangan. Langkah tegapnya, bersama dengan aba-aba yang lantang, seluruh peserta upacara berdiri tegak dalam posisi sempurna. Upacara dimulai dengan penghormatan umum kepada pembina upacara yang telah berdiri di podium. Suara musik instrumental mengalun, mengiringi pasukan pengibar bendera yang mulai bergerak dengan langkah pasti dan terkoordinasi. Mereka membawa bendera kebanggaan, yang masih terlipat rapi, menuju tiang bendera.
Saat lagu "Indonesia Raya" mulai dinyanyikan, suasana menjadi begitu hening. Semua peserta pada hormat dan mata tertuju pada bendera yang perlahan mulai dikibarkan. Diiringi oleh paduan suara dari SMPN 1 Umbulsari, bendera Merah Putih itu perlahan naik, seolah-olah mengapung di udara. Momen tersebut begitu syahdu dan emosional, mengingatkan akan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Hati setiap peserta upacara dipenuhi rasa bangga dan haru, menyaksikan lambang negara berkibar di angkasa.
Setelah bendera berkibar sempurna dan lagu kebangsaan selesai dinyanyikan, upacara dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila, dan UUD 1945. Suara-suara tegas dan serempak terdengar di seluruh penjuru lapangan. Pidato pembina upacara juga menjadi salah satu sesi penting, di mana beliau menyampaikan pesan-pesan moral, motivasi, dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Upacara ditutup dengan doa, memohon keberkahan dan keselamatan bagi bangsa dan negara. Upacara bendera di Lapangan Gunungsari tidak hanya untuk memperingati 17 Agustus 2025, melainkan sebuah ritual sakral yang mengingatkan setiap orang akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Momen tersebut menjadi pengingat yang kuat tentang nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan kebanggaan akan Tanah Air. Setelah upacara selesai, para peserta upacara melakukan foto bersama, lalu peserta bersiap untuk pulang.
Komentar
Posting Komentar