Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Kelasku Rumah Keduaku / By : Nala Izzatul Fardana Arwi

Suasana kelas yang nyaman merupakan salah satu kunci utama keberhasilan proses belajar mengajar. Kelas yang bersih, tertata, dan menarik tidak hanya membuat peserta didik betah berada di dalamnya, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat belajar, rasa memiliki, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan belajar.

Sebagai wali kelas 8A, saya percaya bahwa menciptakan kenyamanan kelas bukan hanya tugas guru, tetapi juga hasil kerja sama seluruh warga kelas. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh siswa kelas 8A untuk mendesain ruang kelas mereka sendiri agar menjadi tempat belajar yang indah, rapi, dan inspiratif.

Ajakan ini disambut dengan antusias luar biasa oleh anak-anak 8A. Mereka bersemangat merancang berbagai perangkat kelas, mulai dari jadwal piket, jadwal pelajaran, denah tempat duduk, hingga papan 5K (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban, Kerapian, dan Kenyamanan). Semua dikerjakan bersama dengan ide-ide kreatif yang mengalir tanpa henti.

Yang paling menarik, tahun ini kelas 8A mengusung tema "Luar Angkasa" sebagai konsep utama dekorasi kelas. Dengan warna-warna gelap berpadu bintang-bintang berkilau, planet-planet berwarna cerah, serta gambar roket yang meluncur ke langit, ruang kelas 8A berubah menjadi seperti galaksi kecil yang penuh imajinasi.

Seluruh siswa bergotong royong untuk mengecat, membersihkan, dan menghias dinding kelas. Ada yang membuat hiasan dinding bertema planet, ada yang menata pojok baca, dan ada pula yang menempelkan kutipan motivasi di setiap sudut ruangan.

Tidak hanya membuat kelas tampak indah, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan antar siswa. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan belajar yang nyaman adalah bagian dari ibadah dan wujud rasa syukur atas fasilitas yang diberikan madrasah.

Kini, kelas 8A bukan hanya ruang belajar, tetapi juga rumah kedua yang menyenangkan. Suasana kelas yang bersih, segar, dan penuh warna membuat siswa lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Mereka lebih fokus, lebih aktif, dan lebih bahagia berada di madrasah.

Sebagai wali kelas, saya merasa bangga melihat perubahan positif ini. Semoga semangat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman ini terus tumbuh di hati seluruh siswa, bukan hanya di kelas 8A, tetapi juga di seluruh madrasah.

Karena pada akhirnya, kelas yang nyaman bukan hanya soal tampilan ruang, tetapi tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan cinta terhadap tempat kita belajar.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...