Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Guru: Digugu lan Ditiru

oleh : Riski Fidiana, S.Pd., Gr.

 

Budaya Jawa kerap kali sarat akan makna mengenai kehidupan sehari-hari. Salah satu yang umum terdengar di masyarakat adalah kata guru yang memiliki akronim digugu lan ditiru. Digugu artinya seorang guru adalah sosok yang ucapannya dapat dipercaya dan dipatuhi. Sementara itu, ditiru artinya seorang guru harus menjadi sosok yang perilakunya dapat diteladani atau diikuti. Konsep digugu lan ditiru ini tidak hanya sebatas pada profesi guru di sekolah atau madrasah. Lebih dari itu, seorang guru nyatanya harus bisa digugu lan ditiru dalam lingkup yang lebih luas, yakni dalam kehidupan bermasyarakat. Guru menjadi  salah satu tokoh yang dianggap dapat menjadi teladan bagi masyarakat, baik ucapannya maupun perilakunya. Guru adalah profesi yang melekat, tidak terbatas pada lingkungan sekolah saja. Oleh sebab itu, seorang guru harus senantiasa berhati-hati dalam berucap dan berperilaku, di mana pun dan kapan pun.

Sebagai pendukung dari konsep digugu lan ditiru, terdapat semboyan yang digaungkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karya, tut  wuri handayani. Trilogi kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara ini dapat dijadikan sebagai pedoman seorang guru dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ing ngarsa sung tuladha bermakna bahwa seorang pemimpin harus bisa menjadi memberikan contoh dan panutan di depan orang lain. Konsep ing madya mangun karsa bermakna bahwa seseorang dapat menjadi penyemangat dan inspirasi di tengah-tengah kehidupan. Sementara itu, konsep tut wuri handayani bermakna bahwa seorang pemimpin harus mampu memberikan dorongan dan dukungan agar yang dipimpin dapat maju.

Trilogi kepemimpinan ini  dapat  diaplikasikan oleh guru, khususnya dalam dunia pendidikan. Misalnya dalam konsep ing ngarsa sung tuladha, guru dapat menjadi tauladan bagi siswa dan sesama rekan kerja. Contoh nyatanya adalah membuang sampah pada tempatnya, mengikuti kegiatan upacara, menggunakan atribut yang rapi dan lengkap, bertutur kata yang santun, serta disiplin. Guru juga dapat memberikan dukungan terhadap peserta didik, misalnya dukungan secara moral apabila  terdapat siswa yang memiliki masalah. Guru  dapat menjadi  tempat bercerita dan memberikan masukan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh siswa.  Guru  juga dapat menjadi penengah apabila terdapat perselisihan antarsiswa atau antarguru. Konsep tut wuri  handayani bagi seorang guru adalah memberikan dukungan dan semangat dari belakang. Guru  dapat memberikan kebebasan kepada siswa utnuk mengambil keputusan sendiri, tetapi tetap diawasi dan didampingi. Dalam hal ini, guru harus bertindak sebagai fasilitator bukan pusat pembelajaran, yakni sebagai pendamping siswa dalam proses belajarnya, bukan satu-satunya sumber untuk belajar.

Guru sebagai sosok yang bisa digugu lan ditiru, seorang  guru harus senantiasa berbenah, belajar, dan terus melakukan evaluasi serta  refleksi terhadap dirinya sendiri. Hasil dari refleksi tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk memperbaiki ucapan dan perilaku seorang guru, bukan hanya sekadar menambah pengetahuan tentang pelajaran yang diampu saja.  Semoga kita senantiasa dapat menjadi guru yang sebenar-benarnya dapat digugu lan ditiru, bukan diguyu lan ditinggal turu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...