Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Di sebuah desa terpencil bernama Watu Kembar, berdirilah sebuah sekolah tua yang hanya memiliki empat ruang kelas dan satu ruang guru yang pintunya selalu berderit. Sekolah itu sudah lama kurang murid, karena banyak orang tua takut satu hal:
Sekolah itu hanya aman sampai jam empat sore. Setelah itu… sesuatu yang lain yang mengajar.
Namun sejak kedatangan seorang guru baru bernama Bu Ratri, keadaan berubah.
Bu Ratri terkenal sebagai guru yang inovatif, kreatif, dan sangat peduli murid. Ia memperkenalkan metode belajar baru:
membaca sambil bercerita, belajar matematika lewat permainan, hingga menanam bunga untuk mengajarkan sains.
Dalam dua bulan saja, sekolah yang tadinya sepi menjadi hidup kembali.
Anak-anak mulai betah, orang tua mulai percaya.
Kepala sekolah sangat bangga.
Namun ada satu larangan yang Bu Ratri tidak pernah langgar:
Jam empat harus pulang. Tidak boleh satu menit pun terlambat.
Ia bahkan sering berkata pada muridnya,
> "Setelah jam empat, sekolah ini bukan tempat belajar… tapi tempat mencari."
Anak-anak hanya menganggap itu candaan.
Sampai hari itu terjadi.
---
– Murid yang Pulang Terlambat
Suatu hari, seorang murid bernama Gilang kehilangan buku gambarnya.
Ia berinisiatif mencarinya sendiri di kelas, meski bel pulang sudah berbunyi.
"Sudah sore, Gilang. Besok saja dicari," kata Bu Ratri.
"Sebentar Bu, cuma sebentar…"
Bu Ratri berubah pucat. "Gilang, IBU BILANG—"
Tapi Gilang sudah kabur masuk kelas.
Dan di detik itu juga…
Lampu kelas berkedip-kedip.
Jendela bergetar.
Udara menjadi dingin seperti malam.
Bu Ratri berdiri mematung di depan pintu kelas, wajahnya tegang.
Bibirnya gemetar melafalkan doa tanpa suara.
Dari dalam kelas, Gilang berteriak:
"Bu… bukunya ada yang ambil…!"
Tapi suaranya berubah.
Semakin lama bukan terdengar seperti suara anak.
Lebih berat. Lebih serak. Lebih… lapar.
Bu Ratri tidak punya pilihan.
Ia menarik Gilang paksa keluar dari kelas.
Ketika pintu terbanting…
ada bekas tangan di daun pintu—panjang, kurus, dan hitam, seperti tangan seseorang yang sudah lama dikubur.
Dan yang membuat semua orang merinding:
Bekas tangan itu bergerak, perlahan menghilang seperti asap.
---
– Rahasia Bu Ratri
Sejak kejadian itu, orang tua murid panik.
Tapi mereka tetap mempercayai Bu Ratri—karena bagaimanapun, ia satu-satunya guru yang membuat anak-anak mau belajar lagi.
Namun kepala sekolah, Pak Alwan, merasa ada yang disembunyikan.
Malam itu, ia diam-diam mengikuti Bu Ratri sepulang sekolah.
Dan ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat:
Bu Ratri membawa sesajen, berjalan ke belakang gudang sekolah—
tempat yang sudah ditutup sejak 20 tahun lalu.
Di sana terdapat sumur tua, ditutup besi berkarat.
Bu Ratri berlutut di depannya, menyalakan lilin, dan berbisik:
> "Jangan lagi ambil muridku… tolong… aku sudah membayar dengan diriku sendiri…"
Suara dari sumur menjawab.
Tapi bukan suara manusia.
Suara itu seperti ribuan kuku menggores batu sambil tertawa.
Pak Alwan lari terbirit-birit.
---
– Sejarah Kelam yang Disembunyikan
Keesokan harinya, Pak Alwan memanggil ibu-ibu sepuh desa.
Di antaranya Mbah Prapti, saksi hidup peristiwa lama.
Dengan suara bergetar, Mbah Prapti berkata:
> "Sekolah itu… dibangun di atas tanah keluarga yang dulu dibantai."
Dahulu, ada seorang guru bernama Bu Lastri, yang terkenal kejam, suka menghukum, dan sering merendahkan muridnya.
Ia hobi mengunci murid-murid yang tidak bisa menjawab soal.
Sampai terjadi kasus:
Tiga murid hilang di sumur belakang sekolah.
Dicari berhari-hari… tapi sumur itu dalam seperti jurang.
Tidak ada tubuh ditemukan.
Namun di malam kelima, Bu Lastri ditemukan tergantung di pohon belakang sekolah—
dengan wajah membiru dan jari-jarinya patah, seperti seseorang menyeretnya dan memaksa ia menggantung diri.
Sejak itu, setiap sore, terdengar suara seperti anak-anak yang memanggil dari dalam sumur.
Suara yang lapar.
Dan Bu Ratri?
Ia adalah keturunan Bu Lastri.
Ia tahu roh-roh itu mengincar murid.
Karena itu ia berusaha menahan mereka.
Dengan inovasinya…
dengan kebaikannya…
Ia mencoba membuat sekolah terang kembali.
Agar roh-roh itu kenyang dengan kebaikan, bukan nyawa.
Tapi roh itu tidak mau kebaikan.
Mereka mau balas dendam.
--Malam Terakhir di Sekolah Watu Kembar
Pada malam Jumat, Bu Ratri lembur mengoreksi tugas.
Ia lupa waktu.
Jam dinding berbunyi tik… tik… tik… sampai menunjuk angka 4 sore.
Lalu listrik padam.
Pintu menutup sendiri.
Kursi bergerak.
Bayangan berjalan di dinding.
Dan dari sumur tua di luar…
Terdengar tiga suara anak kecil:
"Ratriii… waktune mbayar…."
Bu Ratri gemetar.
Ia tahu hari itu pasti datang.
Roh-roh murid Bu Lastri menuntut darah dari keturunannya.
"Kalau kalian mau aku… jangan sentuh murid-muridku…"
tangis Bu Ratri.
Dari gelap, tangan-tangan kurus, pucat, dan memanjang merayap ke arahnya.
---
Keesokan paginya,
Meja Bu Ratri kosong.
Buku-buku berhamburan.
Dan di papan tulis terdapat tulisan dengan kapur merah:
"Satu nyawa diganti satu ketenangan."
Tidak ada yang pernah menemukan tubuh Bu Ratri.
Tapi sejak saat itu…
Tidak pernah ada lagi gangguan di sekolah.
Tidak ada suara di sumur.
Tidak ada bayangan berjalan.
Karena guru itu…
telah membayar semuanya dengan dirinya sendiri.
Bu Ratri.
Guru yang berinovasi.
Guru yang menginspirasi.
Guru yang melindungi.
Dan guru yang mati…
agar muridnya tetap hidup.
---
Komentar
Posting Komentar