Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Kanvas Akhir Tahun: Syair Desember Penutup Tirai / Ahmad Taqiyyudin, S.Pd.

Desember tiba, bukan sekadar tanggal yang beranjak senja, namun sebuah kanvas agung tempat kita melukis jejak syukur di batas cakrawala. Udara dingin yang membelai bukan sekadar hembusan angin, melainkan bisikan lembut agar kita berhenti sejenak dan menghitung bintang yang telah menuntun sepanjang tahun. Inilah bulan di mana setiap hela napas terasa seperti berkah yang terukir emas, mengingatkan bahwa hidup adalah rangkaian anugerah—dari tawa yang membekas hingga air mata yang mendewasakan. Desember, engkau adalah jeda indah sebelum lonceng pergantian berdentang, sebuah ruang sunyi untuk menampung seluruh makna yang telah diberikan.

Pantun Refleksi:

Pucuk pinus berbalut embun pagi,

Burung tekukur hinggap di dahan,

Hitunglah syukur sebelum pergi,

Agar hati damai tanpa beban.

Makna hidup, ia terbit saat kita berani merunduk di hadapan diri sendiri. Desember adalah musim untuk memungut serpihan pelajaran yang jatuh berserakan, merangkainya menjadi kalung hikmah yang berkilauan. Semua kesalahan yang lalu, bukan lagi belenggu, melainkan anak tangga menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi. Di bawah langit Desember, kita lepaskan ikatan sesal, memaafkan bayangan masa lalu, dan membersihkan hati dari debu kebimbangan. Proses ini, seindah gugurnya daun ke tanah, adalah upaya membuat hidup bernyanyi dengan melodi yang lebih merdu dan autentik, menemukan kembali tujuan sejati yang terkubur dalam hiruk pikuk.

Pantun Pelepasan:

Ombak berderai memecah batu,

Ikan tenggiri lincah berenang,

Lepaskan yang lalu di batas waktu,

Sambut esok hari dengan hati tenang.

Maka, hadirlah kesiapan itu, bukan sebagai ketergesaan, melainkan sebagai ketenangan yang terstruktur. Kita menyambut tahun yang baru bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan segenggam optimisme yang dipanen dari ladang pengalaman. Tahun baru adalah selembar kertas yang masih suci, dan Desember adalah kuas yang kita bersihkan agar siap melukis dengan warna-warna harapan. Kesiapan ini berarti menuntaskan janji yang tersisa, merapikan meja kerja yang berantakan, dan yang terpenting, merapikan jiwa agar ia mampu menampung tantangan dan kegembiraan yang akan datang. Kita berdiri di ambang batas, menghirup aroma permulaan.

Pantun Harapan Baru:

Bunga mawar merekah di taman,

Di petik si dara untuk hantaran,

Tahun baru datang membawa harapan,

Langkah teguh menuju masa depan.

Jadikan Desember ini sebagai ritual penutup yang sakral. Biarkan berkah mengalir, membasuh segala lelah dan ragu. Biarkan makna menjadi suluh yang menerangi jalan. Ketika tirai tahun ini benar-benar ditutup, kita melangkah ke gerbang tahun baru bukan sebagai pengembara yang tersesat, tetapi sebagai nahkoda yang telah memetakan bintang. Dengan hati yang penuh dan jiwa yang utuh, kita berjanji untuk menjadikan setiap babak baru sebagai perjalanan yang lebih indah, lebih bijaksana, dan lebih bermakna.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...