Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Dari Laboratorium Komputer Menuju Laboratorium Karakter: Semangat Baru Pembelajaran Informatika Berbasis Cinta di Awal Tahun / Alfi Filsafalasafi

Awal tahun ajaran yang dimulai pada bulan Januari bukan sekadar pergantian waktu, tetapi momentum strategis untuk membangun semangat dan arah baru dalam pendidikan. Bagi guru Informatika di MTsN 7 Jember, Januari menjadi titik tolak untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta. Di laboratorium komputer, tempat siswa berinteraksi dengan perangkat digital, nilai-nilai kemanusiaan justru harus semakin dikuatkan.
Pembelajaran Informatika sering kali dipandang sebatas praktik menggunakan komputer, aplikasi perkantoran, internet, atau pengenalan jaringan. Padahal, di balik layar monitor, ada proses pendidikan yang lebih dalam: membentuk sikap siswa terhadap teknologi dan terhadap sesama. Kurikulum berbasis cinta mengajak guru untuk mengedepankan empati, kesabaran, perhatian, serta penghargaan terhadap setiap proses belajar siswa. Ini sangat relevan di laboratorium komputer, karena kemampuan siswa dalam bidang teknologi sangat beragam.

Sebagian siswa mungkin sudah terbiasa menggunakan komputer, sementara yang lain masih canggung memegang mouse atau takut menekan tombol yang salah. Jika guru hanya berfokus pada target materi, siswa yang lambat akan tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri. Namun melalui pendekatan berbasis cinta, guru hadir sebagai pembimbing yang memahami perbedaan tersebut. Kesalahan tidak langsung dianggap kegagalan, tetapi bagian alami dari proses belajar. Saat program tidak berjalan, file terhapus, atau koneksi gagal, guru mengajak siswa menganalisis bersama, bukan memarahi. Dari sinilah tumbuh keberanian mencoba dan kemampuan memecahkan masalah.

Laboratorium komputer pun berubah fungsi, bukan hanya ruang praktik teknologi, tetapi "laboratorium karakter". Di sana siswa belajar sabar menunggu giliran, bekerja sama saat praktik kelompok, serta saling membantu ketika ada teman yang kesulitan. Guru menanamkan bahwa teknologi harus digunakan dengan tanggung jawab. Materi tentang internet, misalnya, tidak hanya membahas cara mencari informasi, tetapi juga etika digital: tidak menyebar hoaks, tidak melakukan perundungan siber, serta menghargai karya orang lain.

Kurikulum berbasis cinta juga tercermin dari cara guru membangun suasana belajar. Sapaan hangat, senyum, dan perhatian sederhana seperti menanyakan kabar siswa sebelum praktik dapat menciptakan rasa aman. Ketika siswa merasa dihargai, mereka lebih terbuka bertanya dan tidak takut mencoba. Lingkungan belajar yang positif ini sangat penting agar siswa MTsN 7 Jember memandang pelajaran Informatika bukan sebagai mata pelajaran sulit, tetapi sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat.

Januari menjadi simbol komitmen baru guru untuk terus memperbaiki pendekatan mengajar. Teknologi akan terus berkembang, aplikasi akan berganti, tetapi nilai cinta dalam pendidikan tetap relevan sepanjang masa. Dengan memadukan keterampilan digital dan pembentukan karakter, pembelajaran Informatika di laboratorium komputer dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak, beretika, dan peduli terhadap sesama. Inilah esensi perubahan yang dimulai dari awal tahun: membangun pendidikan yang memanusiakan manusia melalui sentuhan cinta di setiap proses pembelajaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...