Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Hadiah di Bulan Januari di Tahun 2026 Bersama Kurikulum Berbasis Cinta/Sujarwati, S.Pd.

Alhamdulillah dalam keadaan sehat dan bugar  sehingga kami dapat memulai awal semester genap di awal tahun 2026 dan awal bulan Januari  dengan semangat yang baru. Di awal bulan Januari 2026 mendapat hadiah  untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik  yaitu Kurikulum berbasis cinta. Kurikulum berbasis cinta menjadi landasan kami dalam mengajar dan mendidik anak-anak bangsa. Kami percaya bahwa cinta adalah kunci untuk membuka hati dan pikiran mereka, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih baik dan menjadi manusia yang lebih baik.

Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tugas kami tidak hanya sekedar mengajar, tapi juga mendidik dan membimbing anak-anak bangsa menjadi generasi yang berakhlak mulia dan berprestasi. Kami tetap semangat dan berjuang demi anak bangsa, meskipun dihadapkan dengan berbagai kurikulum dan tantangan.

Sebelum menghadapi kurikulum berbasis cinta, guru-guru kami dikenalkan melalui workshop yang intensif dan interaktif. Workshop ini bertujuan untuk mempersiapkan guru-guru dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta di kelas. Dalam workshop ini, guru-guru diajak untuk memahami konsep kurikulum berbasis cinta, serta cara-cara mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar.

Selama workshop, guru-guru juga diajak untuk merefleksikan pengalaman mereka sendiri sebagai siswa dan guru, serta mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi dalam mengajar. Mereka juga diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan ide, serta mendapatkan umpan balik dari rekan-rekan dan fasilitator. Dengan demikian, guru-guru dapat memahami lebih baik bagaimana kurikulum berbasis cinta dapat membantu mereka meningkatkan kualitas pengajaran dan mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik.

Workshop ini juga memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk mengembangkan keterampilan dan strategi pengajaran yang lebih efektif, seperti cara menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman, cara memotivasi siswa, dan cara mengatasi tantangan dalam kelas. Dengan demikian, guru-guru dapat merasa lebih percaya diri dan siap untuk mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta di kelas. 

Kurikulum berbasis cinta adalah sebuah pendekatan pendidikan yang menekankan pentingnya cinta, kasih sayang, dan empati dalam proses belajar mengajar. Ini berarti bahwa kami sebagai pendidik harus menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan menyenangkan bagi anak-anak, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih baik dan menjadi manusia yang lebih baik.

Dalam kurikulum berbasis cinta, kami tidak hanya fokus pada aspek akademis, tapi juga pada aspek sosial, emosional, dan spiritual. Kami ingin anak-anak bangsa menjadi manusia yang seimbang, yang dapat menghadapi tantangan hidup dengan bijak dan menjadi agen perubahan yang positif di masyarakat.

          Dengan demikian, kami mengajak semua pihak untuk bergabung dengan kami dalam mewujudkan kurikulum berbasis cinta. Mari kita bekerja sama untuk menciptakan generasi yang berakhlak mulia, berprestasi, dan menjadi kebanggaan bangsa. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...