Langsung ke konten utama

**Januari 2026: Awal Perubahan Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta) dalam Pembelajaran Matematika di MTs. Negeri 7 Jember**/ Nurul Laili, S.Pd., M.Pd.

Januari dan Makna Sebuah Awal Januari selalu hadir sebagai penanda awal. Ia bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan momentum refleksi, evaluasi, dan penyusunan harapan baru. Bagi dunia pendidikan, Januari sering kali menjadi titik lahirnya semangat pembaruan—pembaruan cara berpikir, cara mengajar, dan cara memaknai proses belajar. Memasuki Januari 2026 , MTs. Negeri 7 Jember menapaki sebuah langkah penting dalam dunia pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Matematika. Langkah ini bukan semata perubahan administrasi kurikulum, melainkan perubahan paradigma yang lebih mendalam melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta) . Sebuah kurikulum yang menempatkan cinta sebagai ruh utama pendidikan. Matematika, yang selama ini sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran sulit dan menegangkan, mulai dipandang dari sudut yang berbeda. Tidak lagi semata-mata tentang angka, rumus, dan ketepatan jawaban, tetapi tentang proses, makna, dan kemanusiaan. Mengapa...

**Januari 2026: Awal Perubahan Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta) dalam Pembelajaran Matematika di MTs. Negeri 7 Jember**/ Nurul Laili, S.Pd., M.Pd.


Januari dan Makna Sebuah Awal

Januari selalu hadir sebagai penanda awal. Ia bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan momentum refleksi, evaluasi, dan penyusunan harapan baru. Bagi dunia pendidikan, Januari sering kali menjadi titik lahirnya semangat pembaruan—pembaruan cara berpikir, cara mengajar, dan cara memaknai proses belajar.

Memasuki Januari 2026, MTs. Negeri 7 Jember menapaki sebuah langkah penting dalam dunia pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Matematika. Langkah ini bukan semata perubahan administrasi kurikulum, melainkan perubahan paradigma yang lebih mendalam melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta). Sebuah kurikulum yang menempatkan cinta sebagai ruh utama pendidikan.

Matematika, yang selama ini sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran sulit dan menegangkan, mulai dipandang dari sudut yang berbeda. Tidak lagi semata-mata tentang angka, rumus, dan ketepatan jawaban, tetapi tentang proses, makna, dan kemanusiaan.


Mengapa Kurikulum Berbasis Cinta Dibutuhkan?

Realitas pembelajaran menunjukkan bahwa tidak sedikit peserta didik yang merasa tertekan saat belajar Matematika. Ketakutan akan salah, cemas menghadapi soal, dan rendahnya rasa percaya diri sering menjadi penghambat utama proses belajar. Dalam kondisi seperti ini, kecerdasan peserta didik tidak berkembang secara optimal karena suasana belajar tidak memberi rasa aman.

Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Cinta dalam pendidikan dimaknai sebagai sikap empati, kesabaran, penghargaan, dan ketulusan guru dalam mendampingi peserta didik. Cinta bukan berarti memanjakan, melainkan membimbing dengan hati, memahami keterbatasan, dan menumbuhkan potensi secara bertahap.

Di MTs. Negeri 7 Jember, Januari 2026 menjadi awal kesadaran kolektif bahwa pembelajaran Matematika harus berubah. Guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu membangun relasi yang positif dan menenangkan dengan peserta didik.


Panca Cinta sebagai Pondasi Pembelajaran

Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah diperkaya dengan konsep Panca Cinta, yaitu lima nilai utama yang menjadi pondasi pembelajaran, meliputi:

  1. Cinta kepada Allah SWT

  2. Cinta kepada diri sendiri

  3. Cinta kepada sesama

  4. Cinta kepada ilmu pengetahuan

  5. Cinta kepada lingkungan

Kelima nilai ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dan terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran Matematika.

Cinta kepada Allah SWT ditanamkan melalui kesadaran bahwa kemampuan berpikir dan bernalar adalah anugerah yang patut disyukuri. Cinta kepada diri sendiri ditumbuhkan dengan membangun rasa percaya diri dan keberanian mencoba. Cinta kepada sesama diwujudkan dalam kerja sama dan saling menghargai. Cinta kepada ilmu menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat, sedangkan cinta kepada lingkungan mengajak peserta didik peduli terhadap kehidupan sekitarnya.


Transformasi Pembelajaran Matematika di Kelas

Sejak Januari 2026, suasana pembelajaran Matematika di MTs. Negeri 7 Jember mulai mengalami perubahan. Kelas tidak lagi dipenuhi ketegangan, tetapi diupayakan menjadi ruang yang aman dan menyenangkan. Guru memulai pembelajaran dengan sapaan hangat, doa bersama, dan motivasi sederhana yang membangun suasana positif.

Dalam pembelajaran berbasis cinta, guru tidak langsung menuntut jawaban benar. Peserta didik diberi ruang untuk berpikir, mencoba, bahkan keliru. Kesalahan tidak lagi menjadi sumber rasa malu, tetapi menjadi bahan diskusi dan pembelajaran bersama.

Guru Matematika berperan sebagai pendamping yang sabar. Ia hadir untuk mendengarkan, membimbing, dan menguatkan. Dengan pendekatan ini, peserta didik perlahan mulai berani bertanya dan mengemukakan pendapat.


Cinta kepada Diri Sendiri: Mengikis Ketakutan pada Matematika

Salah satu perubahan paling terasa adalah tumbuhnya cinta kepada diri sendiri pada peserta didik. Mereka tidak lagi merasa bodoh ketika tidak bisa mengerjakan soal. Guru menanamkan pemahaman bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda.

Melalui afirmasi positif dan umpan balik yang membangun, peserta didik belajar menghargai usaha mereka sendiri. Kalimat-kalimat sederhana seperti "kamu sudah berusaha", "ayo kita coba bersama", atau "salah itu bagian dari belajar" menjadi energi besar yang menumbuhkan keberanian.

Perlahan, rasa takut terhadap Matematika mulai berkurang. Peserta didik tidak lagi pasif, tetapi mulai aktif terlibat dalam pembelajaran.


Cinta kepada Sesama dalam Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran Matematika berbasis Panca Cinta juga menekankan pentingnya kerja sama. Peserta didik dibagi dalam kelompok heterogen untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Dalam diskusi kelompok, mereka belajar mendengarkan, menghargai pendapat, dan saling membantu.

Proses ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai secara individual. Ada nilai kebersamaan, empati, dan tanggung jawab yang tumbuh dalam setiap interaksi. Matematika menjadi sarana membangun karakter sosial, bukan sekadar mengasah logika.


Cinta kepada Ilmu: Matematika yang Bermakna

Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, Matematika tidak lagi diajarkan secara abstrak semata. Guru mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, seperti perhitungan dalam jual beli, pengukuran dalam aktivitas rumah tangga, hingga analisis data sederhana yang dekat dengan lingkungan mereka.

Dengan pendekatan kontekstual ini, peserta didik mulai memahami bahwa Matematika memiliki manfaat nyata. Ilmu tidak lagi terasa jauh, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah tumbuh cinta kepada ilmu pengetahuan yang sejati.


Cinta kepada Lingkungan sebagai Nilai Tambahan

Nilai cinta kepada lingkungan juga terintegrasi dalam pembelajaran Matematika. Soal-soal kontekstual diambil dari isu lingkungan, seperti pengelolaan sampah, penggunaan air, atau perencanaan ruang. Peserta didik diajak berpikir kritis sekaligus peduli terhadap lingkungan sekitar.

Matematika menjadi sarana untuk memahami realitas dan mencari solusi atas permasalahan lingkungan, bukan sekadar latihan hitung.


Dampak Positif Perubahan Kurikulum

Perubahan pendekatan pembelajaran sejak Januari 2026 membawa dampak positif yang signifikan. Peserta didik menunjukkan peningkatan motivasi belajar, keberanian bertanya, dan keaktifan dalam kelas. Hubungan antara guru dan peserta didik menjadi lebih harmonis dan penuh kepercayaan.

Secara akademik, pemahaman konsep Matematika juga meningkat secara bertahap. Namun yang lebih penting, peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang lebih percaya diri, sabar, dan menghargai proses belajar.


Januari 2026 sebagai Titik Awal, Bukan Akhir

Januari 2026 bukanlah akhir dari perubahan, melainkan awal dari perjalanan panjang. Kurikulum Berbasis Cinta (Panca Cinta) menuntut konsistensi, refleksi, dan komitmen bersama. Guru dituntut untuk terus belajar dan mengajar dengan hati.

Di MTs. Negeri 7 Jember, perubahan ini menjadi bukti bahwa ketika cinta dijadikan dasar pembelajaran, maka ilmu akan lebih mudah diterima dan karakter akan tumbuh dengan alami.


Pantun Penutup

Menanam cinta di ladang ilmu,
Disiram sabar tumbuh maknanya.
Januari awal langkah bermutu,
Matematika hidup bersama cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...