Januari sebagai Momentum Transformasi Pembelajaran SKI melalui Kurikulum Berbasis Cinta / Dra. Uswatun Hasanah, M.Pd.I
Bulan Januari selalu hadir sebagai penanda awal. Awal tahun, awal semester, sekaligus awal harapan baru bagi dunia pendidikan. Bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Januari bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum penting untuk melakukan transformasi pembelajaran agar lebih bermakna, humanis, dan menyentuh hati peserta didik. Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan adalah menguatkan pembelajaran melalui kurikulum berbasis cinta.
Pembelajaran SKI sejatinya tidak hanya menyampaikan fakta sejarah, tokoh, dan peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, SKI memiliki misi membentuk karakter, menanamkan nilai keteladanan, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Islam dan peradabannya. Namun, tantangan zaman sering kali membuat pembelajaran terjebak pada hafalan kronologi dan angka tahun, sehingga kehilangan ruh dan nilai kemanusiaannya. Di sinilah kurikulum berbasis cinta menemukan relevansinya.
Kurikulum berbasis cinta menempatkan kasih sayang, empati, dan kepedulian sebagai landasan utama dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pendidik yang menghadirkan keteladanan, kehangatan, dan perhatian tulus kepada peserta didik. Dengan pendekatan ini, kelas SKI menjadi ruang yang aman, menyenangkan, dan penuh makna, tempat peserta didik merasa dihargai dan dicintai.
Januari menjadi waktu yang tepat untuk memulai perubahan tersebut. Guru SKI dapat merefleksikan praktik pembelajaran yang telah berjalan, lalu memperbaikinya dengan sentuhan cinta. Misalnya, dalam mengajarkan kisah Rasulullah saw., para sahabat, dan tokoh-tokoh Islam, guru tidak hanya menekankan peristiwa sejarahnya, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, kesabaran, toleransi, dan kepedulian sosial. Peserta didik diajak memahami bahwa sejarah Islam adalah sejarah tentang cinta kepada Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
Transformasi pembelajaran juga dapat dilakukan melalui metode yang lebih partisipatif dan dialogis. Diskusi reflektif, pembelajaran berbasis proyek, hingga penugasan yang mengaitkan materi SKI dengan kehidupan sehari-hari dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kedekatan emosional peserta didik terhadap materi. Dengan demikian, SKI tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang jauh dari realitas, tetapi sebagai pedoman hidup yang relevan.
Kurikulum berbasis cinta juga mendorong guru untuk lebih peka terhadap keberagaman karakter dan latar belakang peserta didik. Setiap anak diperlakukan sebagai pribadi unik yang memiliki potensi dan kebutuhan berbeda. Sikap sabar, tidak menghakimi, serta memberikan apresiasi atas usaha kecil peserta didik merupakan wujud nyata cinta dalam pendidikan.
Akhirnya, menjadikan Januari sebagai momentum transformasi pembelajaran SKI melalui kurikulum berbasis cinta adalah langkah strategis untuk membangun pendidikan yang berkarakter dan berjiwa moderat. Dengan cinta sebagai fondasi, pembelajaran SKI tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga melembutkan hati. Dari ruang kelas yang penuh cinta inilah diharapkan lahir generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin dalam kehidupan nyata.
Komentar
Posting Komentar