Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Kurikulum berbasis cinta mencetak generasi yang berkarakter/ by Siti Fathimah


Pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari guru kepada siswa, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan. Di sinilah pentingnya kurikulum berbasis cinta. Kurikulum ini mengajarkan bahwa belajar harus dimulai dari rasa aman, dihargai, dan disayangi. Ketika siswa merasa dicintai, mereka akan lebih mudah menerima ilmu dan berkembang menjadi pribadi yang baik.

Kurikulum berbasis cinta menempatkan kasih sayang sebagai dasar pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan. Sikap ramah, sabar, dan peduli menjadi kunci dalam membangun hubungan yang harmonis di kelas. Dengan suasana seperti itu, siswa tidak takut bertanya, tidak malu mencoba, dan berani berpendapat.

Dalam praktiknya, kurikulum ini terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti menyapa siswa setiap pagi, mendengarkan keluhan mereka, memberi motivasi saat gagal, serta mengapresiasi setiap usaha. Pembelajaran tidak lagi kaku, tetapi penuh makna karena dikaitkan dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Melalui kurikulum berbasis cinta, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah kedua yang menumbuhkan karakter. Dari sinilah lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap membangun masa depan dengan hati yang baik.

        Kurikulum berbasis cinta dilaksanakan setiap hari selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Nilai-nilai cinta seperti kasih sayang, kejujuran, empati, dan kepedulian tidak hanya diberikan pada jam pelajaran, tetapi juga dibiasakan sejak siswa datang ke sekolah hingga pulang kembali ke rumah. Dengan demikian, penerapannya berlangsung sepanjang waktu pendidikan berjalan.

Pelaksanaan kurikulum berbasis cinta dilakukan di seluruh lingkungan pendidikan, terutama di madrasah atau sekolah. Nilai-nilai tersebut diterapkan di ruang kelas, halaman sekolah, perpustakaan, mushala, laboratorium, hingga pada kegiatan di luar sekolah seperti bakti sosial dan kegiatan kemasyarakat, di rumah dan lingkungan sekitar, peserta didik tetap diarahkan untuk menerapkan sikap penuh cinta dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, kurikulum berbasis cinta dilaksanakan kapan saja dan di mana saja, selama proses pendidikan berlangsung, agar terbentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter mulia.

    Literasi kurikulum berbasis cinta di MTs merupakan upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Kurikulum dipahami bukan sekadar dokumen pembelajaran, melainkan jalan untuk menanamkan nilai kasih sayang, empati, kejujuran, dan tanggung jawab. Pendekatan ini ditujukan bagi seluruh warga madrasah, terutama siswa sebagai subjek utama pendidikan, guru sebagai pembimbing, kepala madrasah sebagai penggerak kebijakan, serta orang tua sebagai mitra dalam mendidik. Ketika semua unsur bergerak dengan semangat cinta, madrasah akan menjadi rumah kedua yang menenangkan dan memotivasi siswa untuk tumbuh berkembang dengan baik.

       Dalam penerapannya, guru MTs mengajar dengan hati, memahami latar belakang, kemampuan, dan perasaan siswa sebelum menilai hasil belajarnya. Bahasa yang digunakan bersifat santun dan membangun, bukan menghakimi, Setiap kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk memberi hukuman yang melemahkan mental siswa. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan nilai keislaman agar siswa merasa dekat dengan materi yang dipelajari. Guru juga memberi teladan sikap disiplin, sabar, dan adil, sehingga siswa tidak hanya menerima teori, tetapi melihat langsung contoh nyata dalam keseharian di madrasah.

Suasana kelas dan lingkungan MTs dibangun menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan. Siswa diberi kesempatan bertanya, berdiskusi, dan mengekspresikan pendapat tanpa rasa takut. Perbedaan kemampuan dan karakter dihargai sebagai kekayaan, bukan hambatan. Dengan literasi kurikulum berbasis cinta, madrasah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, emosional, dan sosial. Inilah hakikat pendidikan di MTs: menumbuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, percaya diri, serta siap menghadapi kehidupan dengan hati yang penuh kepedulian.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...