Langsung ke konten utama

Januari 2026 sebagai Awal Transformasi: Matematika Humanis dalam Kurikulum Berbasis Cinta / Eko Budi Setiyadi, S.Pd., M.Pd.

Januari 2026 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk melakukan transformasi pembelajaran yang lebih berpusat pada manusia. Bagi guru Matematika, awal tahun ini bukan hanya waktu menyusun perangkat ajar baru, tetapi juga kesempatan merefleksikan kembali makna mengajar. Matematika tidak lagi cukup dipahami sebagai kumpulan angka dan rumus, melainkan sebagai sarana membangun nalar, karakter, dan kemanusiaan peserta didik melalui kurikulum berbasis cinta. Selama bertahun-tahun, Matematika sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang kering, sulit, dan jauh dari kehidupan nyata siswa. Tidak sedikit peserta didik merasa cemas bahkan takut ketika berhadapan dengan angka. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan humanis dalam pembelajaran Matematika, yakni pendekatan yang memandang siswa sebagai individu utuh dengan perasaan, pengalaman, dan potensi yang beragam. Kurikulum berbasis cinta hadir untuk menjembatani kebutuhan akademik dan kebutuhan emosional siswa secara seimba...

Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Langkah Awal Pembaruan Pembelajaran IPA di Bulan Januari 2026 / Ririn Sulistyowati, S.Pd.


Bulan Januari 2026 menjadi momentum refleksi dan pembaruan bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Awal tahun tidak hanya dimaknai sebagai pergantian kalender akademik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menata kembali orientasi pembelajaran agar lebih bermakna, humanis, dan berpihak pada murid. Salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut adalah penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai langkah awal pembaruan pembelajaran IPA.

Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan nilai kasih sayang, empati, kepedulian, dan penghargaan terhadap kehidupan sebagai fondasi proses belajar. Dalam konteks pembelajaran IPA, pendekatan ini sangat relevan karena IPA tidak hanya mempelajari gejala alam, tetapi juga membangun kesadaran murid akan keterkaitan manusia dengan lingkungan, sesama makhluk hidup, dan Sang Pencipta. Dengan cinta sebagai landasan, pembelajaran IPA tidak lagi sekadar transfer konsep dan rumus, melainkan proses pembentukan karakter dan kepekaan sosial.

Memulai pembaruan di bulan Januari memberi makna simbolis sekaligus praktis. Guru IPA dapat menjadikan awal semester sebagai ruang untuk menyepakati nilai-nilai kelas, membangun hubungan emosional yang sehat, serta menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi murid. Ketika murid merasa dihargai dan dicintai, mereka akan lebih terbuka untuk bertanya, bereksperimen, dan berpikir kritis—kompetensi utama dalam pembelajaran IPA.

Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran IPA dapat dilakukan melalui berbagai strategi. Pertama, guru merancang pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan murid, seperti isu lingkungan, kesehatan, dan keberlanjutan. Pembahasan tentang perubahan iklim, misalnya, tidak hanya menekankan aspek ilmiah, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap bumi. Kedua, guru menerapkan asesmen yang berkeadilan dan memanusiakan murid, dengan memberi umpan balik yang membangun, bukan menghakimi.

Selain itu, pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai cinta. Melalui kerja kelompok, murid belajar saling menghargai perbedaan pendapat, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah secara empatik. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi dengan penuh kesabaran, mendengarkan suara murid, serta memberi teladan dalam bersikap.

Pembaruan pembelajaran IPA melalui Kurikulum Berbasis Cinta juga menuntut refleksi berkelanjutan dari guru. Guru tidak hanya menguasai materi, tetapi juga terus belajar memahami kebutuhan emosional dan sosial murid. Dengan demikian, ruang kelas IPA menjadi ruang yang hidup, menyenangkan, dan bermakna.

Akhirnya, menjadikan Januari 2026 sebagai langkah awal penerapan Kurikulum Berbasis Cinta adalah sebuah komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang utuh. Pembelajaran IPA tidak hanya mencetak murid yang cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter, peduli, dan berdaya untuk membawa perubahan positif bagi lingkungan dan masyarakat. Dari cinta di ruang kelas, lahirlah harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...