Menanamkan Nilai Cinta di Awal Tahun 2026: Transformasi Pembelajaran Al-Qur’an Hadits melalui Kurikulum Berbasis Cinta / Izza Nur Laila, S.Ag.
Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk melakukan refleksi sekaligus transformasi. Bulan Januari bukan sekadar penanda pergantian kalender, tetapi juga waktu yang tepat untuk menata ulang niat, strategi, dan pendekatan pembelajaran. Bagi guru Al-Qur'an Hadits, momen ini dapat dimanfaatkan sebagai titik awal menanamkan nilai cinta melalui penerapan kurikulum berbasis cinta, sebuah pendekatan yang menempatkan kasih sayang, empati, dan kemanusiaan sebagai fondasi pendidikan.
Pembelajaran Al-Qur'an Hadits sejatinya tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, hafalan ayat, atau pemahaman hadis secara tekstual. Lebih dari itu, mata pelajaran ini memiliki misi besar dalam membentuk akhlak, karakter, dan kepekaan sosial peserta didik. Kurikulum berbasis cinta hadir sebagai jawaban atas tantangan pendidikan modern yang kerap terjebak pada pencapaian kognitif semata, sementara dimensi afektif dan spiritual kurang mendapatkan perhatian.
Menanamkan nilai cinta dalam pembelajaran Al-Qur'an Hadits berarti menghadirkan ajaran Islam secara ramah, menenangkan, dan membumi. Guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, tetapi juga teladan dalam bersikap penuh kasih, menghargai perbedaan, serta membangun hubungan yang hangat dengan peserta didik. Di awal tahun 2026, suasana kelas dapat dibangun dengan pendekatan yang lebih humanis, di mana peserta didik merasa aman untuk bertanya, berpendapat, dan belajar tanpa rasa takut.
Transformasi pembelajaran melalui kurikulum berbasis cinta dapat diwujudkan melalui berbagai strategi. Guru dapat mengaitkan ayat Al-Qur'an dan Hadits dengan realitas kehidupan sehari-hari peserta didik, seperti nilai saling menghormati, tolong-menolong, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Metode diskusi reflektif, pembelajaran berbasis proyek sosial, serta pembiasaan sikap positif di kelas menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan nilai cinta tersebut.
Selain itu, evaluasi pembelajaran pun perlu diarahkan tidak hanya pada hasil akademik, tetapi juga pada proses dan perubahan sikap peserta didik. Apresiasi terhadap perilaku baik, sikap empati, dan usaha belajar yang tulus merupakan bagian dari implementasi kurikulum berbasis cinta. Dengan demikian, peserta didik merasa dihargai sebagai individu yang sedang bertumbuh, bukan sekadar objek penilaian.
Awal tahun 2026 menjadi kesempatan berharga bagi guru Al-Qur'an Hadits untuk melakukan "hijrah pendidikan", yaitu berpindah dari pembelajaran yang kaku menuju pembelajaran yang penuh makna. Kurikulum berbasis cinta tidak mengurangi substansi ajaran Islam, justru menguatkannya dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Melalui cinta, nilai-nilai Al-Qur'an dan Hadits dapat meresap lebih dalam ke hati peserta didik.
Dengan menjadikan Januari sebagai awal perubahan, diharapkan pembelajaran Al-Qur'an Hadits mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut hatinya, kuat akhlaknya, dan siap menebarkan rahmat bagi lingkungan sekitarnya. Inilah esensi pendidikan berbasis cinta: membangun manusia seutuhnya melalui cahaya Al-Qur'an dan teladan Rasulullah SAW.
Komentar
Posting Komentar