Januari selalu hadir sebagai awal atau permulaan. Bulan Januari bukan pula sekedar penanda pergantian masa, tetapi merupakan momentum refleksi dan penataan ulang niat. Bagi kami sebagai guru madrasah, Januari adalah kesempatan emas untuk memulai perubahan bermakna dalam proses pendidikan.
Januari sebagai awal perubahan berarti memulai semester dengan komitmen baru: menghadirkan pembelajaran yang humanis. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menumbuhkan rasa aman, dihargai, dan dicintai pada diri peserta didik. Cinta dalam kurikulum terwujud melalui bahasa yang santun, kesabaran dalam membimbing, keadilan dalam menilai, serta kepekaan terhadap kebutuhan belajar siswa.
Di titik inilah Kurikulum Berbasis Cinta menemukan relevansinya: sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan kasih sayang, empati, dan keteladanan sebagai pondasi utama pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa peserta didik bukan hanya objek transfer ilmu, melainkan subjek yang memiliki perasaan, potensi, dan latar belakang beragam. Dalam konteks madrasah, nilai-nilai cinta sejatinya telah lama mengakar melalui ajaran akhlakul karimah. Namun, tantangan zaman—digitalisasi, tekanan akademik, dan dinamika sosial—menuntut guru untuk mengemas kembali nilai-nilai tersebut secara lebih kontekstual dan aplikatif.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Guru merancang pembelajaran yang memberi ruang dialog, menghargai perbedaan pendapat, dan menumbuhkan kerja sama. Penilaian tidak semata berorientasi pada angka, tetapi juga pada proses, usaha, dan perkembangan karakter. Kegiatan refleksi, apresiasi, serta pembiasaan sikap saling menghormati menjadi bagian integral dari proses belajar.
Di lingkungan madrasah, cinta juga bermakna mengintegrasikan nilai spiritual dalam setiap pembelajaran. Guru menjadi teladan akhlak, menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Bersama Kurikulum Berbasis Cinta menuntut konsistensi sepanjang tahun. Ketika cinta menjadi ruh pendidikan, madrasah akan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Dari Januari, perubahan itu dimulai—oleh guru, untuk masa depan yang lebih manusiawi dan bermakna.( Roess-89 )
Komentar
Posting Komentar