Bola - Bola Nastar Tanda Idul Fitri Telah Tiba
oleh : Andriana Nafelian C.L.R, S.Pd
Hari Idul Fitri / hari lebaran adalah momen istimewa penuh suka cita, diawali dengan takbiran, shalat Ied, dan bermaaf-maafan. Tradisi utama dalam momen ini dengan bersilaturahmi ke rumah tetangga dan saudara, menyantap menu ketupat dan bagi - bagi THR. Hari Idul Fitri adalah waktu untuk mempererat silaturahmi, bebagi rezeki, dan refleksi diri. Ciri khas suasana lebaran / idul fitri diawali dengan : 1) Malam takbiran : suasana meriah dengan gema takbir dari masjid dan lampu hias. 2) Shalat Idul Fitri : Melaksanakan kegiatan shalat Ied di masjid. 3) Silaturahmi : Berkeliling untuk mengunjungi rumah tetangga dan saudara kemudian sungkeman dan bermaaf- maafan, akan tetapi pada keluarga inti terlebih dahulu. 3) THR : Momen yang paling ditunggu anak - anak dengan menerima THR (uang saku) dari sanak saudara. 4) Mudik : Kegiatan kembali ke kampung halaman untuk bertemu nenek ataupun keluarga besar untuk menciptakan kenangan yang hangat dan berkesan. Lebaran menjadi momen healing setelah sebulan puasa dan dengan diiringi kebahagian dan kebersamaan.
Adapula yang menjadi ciri khas di hari lebaran yaitu jamuan untuk para saudara yang hadir berkunjung ke rumah untuk bersilaturahmi berupa camilan bola bola nastar. Bola - bola nastar bukanlah sekedar camilan melainkan ikon dan penanda utama bahwa lebaran (idul fitri) telah tiba di Indonesia. Kue kering ini berisi selai nanas yang telah menjadi tradisi turun - temurun yang wajib ada di setiap meja tamu saat perayaan di hari kemenangan. Kue nastar merupakan bukti nyata akulturasi budaya. Berasal dari kue pai Belanda, nastar telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh masyarakat Indonesia hingga menjadi kue khas yang lekat dengan perayaan.
Beberapa alasan bola - bola nastar identik dengan tibanya lebaran yaitu : 1) Filosofi kemakmuran dan rezeki : dalam budaya Tionghoa nastar sering Ong Lai (buah pir emas) yang melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan rezeki. Nastar mengalami modifikasi menjadi bola - bola kecil dengan warna kuning emas sehingga dianggap membawa rezeki melimpah dan keberuntungan. Sehingga menyuguhkan nastar saat lebaran diharapkan membawa keberuntungan bagi tuan rumah dan tamu. 2) Simbol kehangatan silaturahmi : Lebaran adalah momen halal bihalal dan berkunjung kerumah saudara. Nastar hadir sebagai hidangan wajib yang manis dan gurih, melambangkan kehangatan serta kebersamaan dalam mempererat tali silaturahmi. 3) Tanda "belum lebaran kalau belum ada nastar" : istilah seperti ini muncul dari generasi ke generasi. Nastar memiliki tekstur yang lembut, gurih dengan perpaduan selai nanas yang sedikit asam manis membuat nastar menjadi favorit. Toples yang berisi nastar di meja tamu menjadi penanda visual bahwa suasana lebaran sudah terasa. Nastar selalu dihidangkan bersama dengan kue kering lainnya seperti kastengel dan putri salju.
Sehingga kehadiran bola - bola nastar menandakan berakhirnya bulan puasa, maka tiba saatnya momen maaf-maafkan, dan menghadirkan kehangatan silaturahmi yang disuguhkan dalam rasa manis di hari nan fitri. Mari kita jadikan momen hari ini sebagai hari kemenangan dan hari keberkahan, "Taqabbalallahu minna wa minkum, minal 'aidin wal faizin".
Komentar
Posting Komentar