Mudik: Menjemput Rindu di Beranda Ibu/ Yatun Sundarsih,S.Pd Riuh rendah suara pengumuman dari pengeras suara dan deru mesin kereta api di stasiun pagi itu biasanya akan membuatku pening. Namun, kali ini berbeda. Setiap langkah di peron dan antrean panjang masuk ke gerbong terasa seperti anak tangga yang membawaku pulang. Aku menoleh ke arah suamiku yang sedang merapikan tas punggung kami, menggenggam tangannya erat, dan tersenyum. "Sebentar lagi berangkat," bisiknya, seolah tahu apa yang bergejolak di dadaku. Sudah 18 tahun aku menyandang status sebagai seorang istri, dan selama itu pula aku tinggal di perantauan, ribuan kilometer jauhnya dari rumah masa kecilku. Hidup di kota orang mengajarkanku menjadi wanita yang tangguh—mengelola rumah tangga sendiri.Sebagai seorang wanita yang bekerja tentunya tanggung jawab dan kewajiban juga bertambah. Dan ketika rasa itu muncul,meredam rindu terhadap orang tua tentunya hanya lewat panggilan video. Namun, secanggih apa pun teknologi, i...
Mudik: Menjemput Rindu di Beranda Ibu/ Yatun Sundarsih,S.Pd
Riuh rendah suara pengumuman dari pengeras suara dan deru mesin kereta api di stasiun pagi itu biasanya akan membuatku pening. Namun, kali ini berbeda. Setiap langkah di peron dan antrean panjang masuk ke gerbong terasa seperti anak tangga yang membawaku pulang. Aku menoleh ke arah suamiku yang sedang merapikan tas punggung kami, menggenggam tangannya erat, dan tersenyum. "Sebentar lagi berangkat," bisiknya, seolah tahu apa yang bergejolak di dadaku.
Sudah 18 tahun aku menyandang status sebagai seorang istri, dan selama itu pula aku tinggal di perantauan, ribuan kilometer jauhnya dari rumah masa kecilku. Hidup di kota orang mengajarkanku menjadi wanita yang tangguh—mengelola rumah tangga sendiri.Sebagai seorang wanita yang bekerja tentunya tanggung jawab dan kewajiban juga bertambah. Dan ketika rasa itu muncul,meredam rindu terhadap orang tua tentunya hanya lewat panggilan video. Namun, secanggih apa pun teknologi, ia tidak pernah bisa menggantikan aroma masakan Ibu atau hangatnya pelukan Ayah dan Ibu.
Lebaran tahun ini adalah janji yang akhirnya kami tunaikan. Setelah menghemat tabungan dan berburu tiket kereta api jauh-jauh hari, kami akhirnya duduk manis di dalam gerbong yang melaju membelah sawah. Selama perjalanan kurang lebih sepuluh jam, pikiranku terbang mendahului raga. Aku membayangkan aroma ketupat yang sedang direbus, bunyi ulekan sambal goreng ati, dan tawa keluargaku yang pasti sudah memenuhi ruang tamu.
Begitu kereta berhenti di stasiun tujuan yaaitu stasiun Tugu Yogyakarta, jantungku berdegup kencang. Kami segera memesan taksi menuju rumah. Saat mobil memasuki gang kecil, pohon mangga di depan rumah masih berdiri kokoh, meski cat pagar tampak sedikit memudar. Begitu mesin mobil mati, pintu rumah terbuka. Sosok wanita dengan rambut yang kian memutih muncul dari balik pintu, diikuti oleh pria tua yang berjalan sedikit tertatih.
"Ibu! Ayah!" aku berlari, melupakan segala rasa lelah akibat perjalanan jauh di atas rel.
Dalam pelukan Ibu, beban sebagai "orang dewasa" di perantauan seolah luruh seketika. Aku kembali menjadi anak kecilnya. Ada aroma bedak dingin dan minyak telon yang khas dari pakaian Ibu—aroma yang selalu kusebut sebagai 'bau surga'. Suamiku menyusul di belakang, menyalami mereka dengan takzim. Kehangatan itu menjalar, mencairkan segala rasa dingin yang sempat membeku selama di tanah rantau.
Malam takbiran di rumah orang tua memiliki magisnya sendiri. Kami duduk melingkar di ruang tengah, mengupas bawang sambil bercerita tentang hiruk-pikuk kehidupan kami. Ayah banyak bertanya tentang pekerjaan suamiku,dan pekerjaanku.sementara Ibu tak henti-hentinya menyuapiku makanan, seolah ingin mengganti waktu makanku yang hilang selama setahun terakhir.
Tinggal jauh dari orang tua memang memberiku kemandirian, namun pulang ke rumah memberiku kedamaian. Aku menyadari bahwa sejauh apa pun aku melangkah mengikuti langkah kaki suami, rumah orang tua akan selalu menjadi pelabuhan terakhir tempat jiwaku beristirahat. Di sini, aku bukan sekadar seorang istri; aku adalah putri kesayangan mereka yang selalu dinanti kehadirannya.
Keesokan harinya, saat gema takbir berkumandang dan kami bersimpuh memohon maaf, air mata jatuh bukan karena sedih, melainkan karena syukur. Syukur karena jarak yang memisahkan kami akhirnya dikalahkan oleh rindu yang bermuara pada pertemuan. Lebaran kali ini bukan sekadar tradisi, tapi sebuah penegasan bahwa sejauh apa pun burung terbang, ia akan selalu tahu jalan pulang ke sarangnya.
Komentar
Posting Komentar