Idulfitri, Momen Silaturahmi Bukan Ajang Saling Menyakiti
Oleh : Riski Fidiana, S.Pd.
Salah satu momen terbaik bagi umat muslim adalah hari Idulfitri. Hari raya ini menjadi momen 'kemenangan' bagi umat muslim setelah menahan hawa nafsu dengan berpuasa selama sebulan penuh. Momen ini dijadikan sebagai salah satu alasan untuk berkumpul dengan keluarga yang tinggal berjauhan, entah dikarenakan pendidikan atau pekerjaan.
Mudik menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh sebagian orang. Pulang ke rumah bertemu dengan orang-orang tersayang, melepas rindu, dan istirahat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan maupun pendidikan di perantauan. Setelah sekian lama berada di perantauan, tentunya mudik menjadi alasan yang kuat untuk pulang.
Sayangnya, bagi sebagian orang hari Idulfitri menjadi hari yang dihindari. Bukan tanpa alasan, terkadang mereka menghindari beberapa pertanyaan yang bagi sebagian orang dianggap biasa tetapi menimbulkan rasa canggung, malas, bahkan trauma. Tentu saja, setiap orang memiliki struglle-nya masing-masing.
Beberapa orang masih berjuang dengan kuliahnya. Ada yang belum selesai dengan skripsinya, entah kesulitan dalam penelitiannya, entah kesulitan dalam bimbingan dengan dosen, entah masalah biaya. Pertanyaan 'kapan lulus?' mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup menimbulkan perasaan tertekan.
Ada lagi yang mungkin telah lulus kuliah, tetapi belum juga mendapat pekerjaan. Pertanyaan 'kerja di mana sekarang?' juga bukan menjadi pertanyaan yang tepat. Karena kita tidak pernah tahu seberapa keras dia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Satu lagi, beberapa orang belum ditakdirkan untuk bertemu dengan jodohnya. Pertanyaan 'kapan nikah?' tentunya menjadi momok yang sangat dihindari meskipun terkadang hal tersebut telah menjadi makanan sehari-hari. Padahal kita tahu, manusia berjalan di atas takdirnya masing-masing yang tentunya tidaklah sama antara manusia satu dengan manusia lainnya.
Terlepas dari beberapa pertanyaan tersebut, yang terkadang tanpa sadar keluar dari mulut kita, tidak ada salahnya jika kita memilih pertanyaan lain yang tentunya tidak menyinggung. Kita bisa bertanya bagaimana kabar saudara kita, apakah hidupnya baik-baik saja, atau bahkan cukup bertanya 'sehat kan sekarang?' Pertanyaan ringan seperti itu justru menjadi pertanyaan yang dinanti-nantikan oleh beberapa orang. Atau jika kita ragu, lebih baik tidak bertanya, daripada momen silaturahmi menjadi momen yang menyakiti. Jangan sampai kita menjadi alasan orang lain merasakan sakit hati, apalagi di momen yang fitri. Eid mubarak!
Komentar
Posting Komentar