Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Kisahku Menjadi Guru yang Mengharuskanku Mencintai Pekerjaanku dan Siswaku/Vareza Juniardi

Menjadi guru bukanlah cita-cita awalku. Dulu, aku hanya membayangkan pekerjaan yang sederhana: datang, bekerja, pulang, dan menerima hasil. Namun, jalan hidup membawaku ke ruang kelas tempat di mana aku tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar tentang kehidupan. Hari-hari pertama menjadi guru terasa berat. Berdiri di depan kelas dengan puluhan pasang mata yang menatap penuh harap sekaligus penasaran membuatku gugup. Tidak semua siswa langsung memahami apa yang kusampaikan, bahkan ada yang tampak tidak peduli. Saat itu, aku sempat bertanya dalam hati, “Apakah ini jalan yang tepat untukku?” Namun, waktu perlahan mengubah segalanya, a ku mulai mengenal mereka bukan hanya sebagai siswa, tetapi sebagai individu dengan cerita yang berbeda. Ada yang datang ke sekolah dengan semangat tinggi, ada yang menyimpan masalah di rumah, ada pula yang kesulitan memahami pelajaran tetapi tidak pernah menyerah. Dari situlah aku mulai sadar, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi ten...

KARTINI ADALAH KITA

KARTINI ADALAH KITA Oleh: Kuni Noervita Romadhini , S.Si     21 April diperingati sebagai hari Kartini di setiap tahunnya. Kartini adalah sosok yang sangat inspiratif hingga tanggal kelahirannya diperingati skala nasional. Nama Kartini gemilang karena ide - ide dan perjuangannya demi kesetaraan kaum wanita di Indonesia. Kebaya, sanggul, dan surat-surat dari Jepara menjadi simbol yang merajut narasi tentang emansipasi. Namun, d i era transformasi digital dan kompleksitas sosial saat ini, Kartini bukan lagi sekadar tokoh dalam buku sejarah. Kartini adalah kita. Makna perjuangan Kartini telah mengalami metamorfosis. Jika dulu ia berjuang melawan keterbatasan akses pendidikan dan pingitan, hari ini "Kartini-Kartini Modern" berjuang di medan yang berbeda namun dengan spirit yang sama: keberanian untuk mendobrak batasan  untuk masa depan yang lebih baik. Mulai dari aspek pendidikan. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah kunci dari kemajuan peradaban. Saat ini, ...
​Kisah Kasih: Dari Teman Menjadi Tujuan Muhammad Pandu S|ka_Pan| ​Persahabatan antara Syarif  dan Eka  mulanya hanyalah deretan percakapan biasa tentang tugas, hobi, dan mimpi-mimpi masa depan yang masih abu-abu. Bagi mereka, satu sama lain adalah pelabuhan aman untuk sekadar bertukar cerita tanpa perlu merasa dihakimi. Tidak ada debar yang berlebihan, hanya kenyamanan yang tumbuh perlahan di sela-sela tawa dan diskusi panjang. ​SYarif mengenal Eka sebagai sosok yang selalu punya cara untuk menenangkan suasana, sementara bagi Eka, Syarif adalah sandaran yang kokoh dan selalu bisa diandalkan. Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk mengubah warna. Kedekatan yang semula hanya dianggap sebagai "zona nyaman" pertemanan, mulai menunjukkan sisi yang berbeda saat jarak atau kesibukan sesekali memisahkan mereka. ​Ada rasa rindu yang tidak lagi terasa seperti rindu kepada kawan lama. Ada kekhawatiran yang lebih dalam saat salah satu dari mereka sedang t...

Ali Imron.S.P.d. /Kasih yang Kutemukan di Ujung Doa

Langit Jember malam itu pekat. Hujan mengguyur deras atap kosku di Umbulsari, tapi lebih deras lagi suara tangisku yang kutahan. Tiga bulan sudah lamaran kerjaku ditolak. Tabungan menipis. Telepon dari Ibu tadi sore masih terngiang: "Nak, Bapak di rumah sakit lagi. Doakan ya." Aku terduduk di atas sajadah lusuh. Tak ada kata yang tersisa kecuali air mata. Malam-malam sebelumnya aku sibuk mengeluh. Malam ini aku hanya bisa berbisik, "Ya Rabb, aku lelah jadi kuat. Kalau memang ini jalan-Mu, tolong genggam aku." Itu bukan doa yang indah. Hanya lirih, patah-patah, jujur. Setelahnya aku tertidur di atas sajadah, membiarkan hujan menghapus sisa isak. Subuh membangunkan aku dengan cara aneh. HP bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:  Jantungku berhenti, lalu berdetak kencang.  Sekolah kecil di pinggir desa yang tiga minggu lalu kutitipkan lamaran tanpa harapan. Jaraknya hanya 2 kilometer dari kos. ...

Kisah Kasih Menemukan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Aku tak pernah benar-benar merencanakan untuk jatuh cinta pada dunia pendidikan, apalagi menjadi guru di madrasah. Dulu, cita-citaku sederhana, memiliki pekerjaan yang stabil dan hidup yang tenang. Namun, hidup sering kali membawa kita ke jalan yang tak terduga. Begitu pula denganku, yang perlahan menemukan makna cinta dalam ruang kelas yang sederhana, di antara suara lantunan ayat-ayat suci dan tawa anak-anak yang penuh harapan. Awalnya, menjadi guru di madrasah hanyalah sebuah pilihan karena keadaan. Aku mengajar dengan kemampuan seadanya, mencoba memenuhi tanggung jawab tanpa benar-benar memahami arti dari profesi ini. Namun, hari demi hari berlalu, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Setiap mata yang memandang penuh rasa ingin tahu, setiap pertanyaan polos yang terlontar, dan setiap senyum tulus yang diberikan, semuanya perlahan menyentuh hatiku. Di sanalah aku menemukan “cintaku” yang sesungguhnya bukan dalam bentuk seseorang, melainkan dalam bentuk pengabdian. Aku ...

Dari Benci Jadi Cinta, dari Jenuh Jadi Luluh

Dulu, pelajaran Bahasa Indonesia di jam terakhir selalu terasa menjenuhkan. Deretan materi tentang kalimat efektif, teks eksposisi, dan kaidah  kebahasaan membuat kepala penat pusing kepalang. Buku paket tebal, suara guru monoton, dan tugas merangkum yang tiada habisnya, membuat banyak siswa menganggap Bahasa Indonesia hanya sekadar hafalan yang membosankan. Aku pun salah satunya siswa yang paling tidak suka terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Namun semua berubah ketika di bangku kuliah aku bertemu dengannya. Ia mahasiswa semester akhir yang jadi asisten dosen Bahasa Indonesia. Caranya menjelaskan majas tidak lewat definisi kaku, tapi lewat puisi dan lirik lagu. Tiba-tiba metafora jadi indah, diksi jadi bermakna, dan tanda baca punya nyawa. Dari rasa kagum pada caranya mengajar, tumbuh benih cinta. Diam-diam, pelajaran yang dulu kujauhi justru menjadi alasan aku bertahan di kelas setiap Minggu. Cinta itu menuntunku memilih jalan yang sama. Aku mengambil pendidikan Bahasa Ind...

Single’s Diary: Menikmati Jeda Sebelum Bertemu/ Miftahur Rizal, S.Pd.

Ada sebuah stigma yang sering kali membuntuti status lajang: bahwa kita adalah buku yang bab tengahnya hilang, atau teka-teki yang kekurangan satu kepingan penting. Namun, belakangan ini aku menyadari bahwa menjadi sendiri bukanlah sebuah kekurangan. Ini adalah sebuah jeda. Dan jika dalam musik jeda adalah ruang untuk bernapas sebelum nada tinggi dimulai, maka dalam hidup, jeda adalah ruang untuk menemukan siapa aku sebenarnya sebelum aku menjadi "kita". Selamat datang di catatanku, sebuah Single’s Diary . Pagi ini, aku terbangun tanpa distraksi. Tidak ada notifikasi yang menuntut perhatian segera, tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan suasana hati dengan orang lain. Aku menyeduh kopi, merasakan uapnya menyentuh wajah, dan menikmati kesunyian yang jujur. Dahulu, sunyi ini menakutkan. Aku akan segera menyalakan televisi atau memutar musik keras-keras hanya untuk mengusir rasa sepi. Namun kini, aku belajar berteman dengannya. Menikmati jeda berarti belajar...
CINTAKU TAK KAN TERLEPAS DARI ORANG YANG MELAHIRKANKU Berikut adalah QS An-Nisa’ ayat 36 beserta terjemahannya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” Ayat ini menegaskan bahwa setelah perintah menyembah Allah, kewajiban utama berikutnya adalah berbuat baik kepada orang tua, termasuk ibu, sebagai wujud cinta dan bakti seorang anak   Cintaku tak ...

Madrasahku, Cintaku: Cerita Indah dari MTsN 7 Jember / Ahmad Taqiyyudin, S.Pd.

Madrasahku bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua yang penuh kenangan. Setiap pagi, langkah kaki terasa ringan saat memasuki gerbang, disambut suasana yang hangat dan penuh semangat. Di sinilah aku mulai memahami arti kebersamaan, disiplin, dan tanggung jawab. Bangunan sederhana itu menyimpan ribuan cerita yang tak akan pernah terlupakan. Di dalam kelas, aku tidak hanya belajar tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan. Guru-guru dengan sabar membimbing, tak hanya mengajar, tetapi juga memberi teladan. Dari mereka, aku belajar arti keikhlasan dan kerja keras. Setiap nasihat yang diberikan terasa seperti bekal berharga untuk menghadapi masa depan. Teman-teman di madrasah menjadi bagian penting dari kisah indah ini. Tawa yang pecah di sela pelajaran, kerja sama saat mengerjakan tugas, hingga saling mendukung saat menghadapi ujian, semuanya terasa begitu berarti. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa persahabatan yang tulus, seolah kami adalah satu keluarga yang sal...

MENEMUKAN CINTAKU PADA MADRASAHKU: LEBIH DARI SEKADAR TEMPAT KERJA_SO’IM

Madrasah bukan hanya sekadar tempat dan bangunan untuk belajar Agama, melainkan rumah kedua yang membentuk jiwa. Itulah yang aku rasakan saat "menemukan" cintaku pada madrasahku. mulanya, kuanggap madrasah mungkin relatif sama dengan sekolah pada umumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa madrasahku adalah tempat bertemunya kesadaran ilmu pengetahuan dan ketulusan hati. Tempat aku menciptakan suasana yang syahdu, nyaman, asri, dan sarat dengan nilai-nilai akhlak mulia. Rasa cinta itu berkembang perlahan. Tumbuh seiring lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menggema di setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Ada kebahagiaan yang tidak aku temukan di tempat lain. Madrasah ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan akhlakul karimah. Di madrasah, disiplin, jujur dan santun adalah karakter. Bukan aturan yang terasa mengekang, melainkan pendidikan dengan hati sabar dan terarah di tengah kenakalan masa remaja gen Z. Cintaku pada mad...

Lolos Menyingkirkan 400 Peserta ke Ruang Kelas Desa: Ku Temukan Cinta sebagai Guru MTsN 7 Jember

Perjalanan hidup sering kali membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Begitulah kisahku menemukan cinta bukan sekadar cinta biasa, tetapi cinta terhadap profesi, pengabdian, dan masa depan generasi bangsa. Semua bermula pada tahun 2024, ketika aku memutuskan mengikuti seleksi CPNS. Prosesnya tidak mudah. Dengan jumlah peserta mencapai sekitar 4.000 orang, persaingan terasa begitu ketat. Setiap tahapan ujian menguji kemampuan, mental, dan kesabaran. Namun, di balik tekanan itu, ada harapan besar yang terus mendorongku untuk melangkah maju. Takdir kemudian membawaku menjadi seorang guru di MTsN 7 Jember. Sebuah titik yang sebelumnya tidak pernah aku rencanakan. Aku yang terbiasa mengajar siswa SMK, kini harus beradaptasi dengan siswa MTs yang memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda. Perjalanan merantau dari Pasuruan ke Jember menjadi langkah besar dalam hidupku. Jarak yang cukup jauh tidak menyurutkan semangatku. Justru, perjalanan ini me...

“KANDAS” BY NURUL LAILI, S.Pd., M.Pd.I

Pergi ke taman memetik melati, Harumnya semerbak hingga ke hati. Inilah kisah perjalanan diri, Tentang cinta yang datang silih berganti. Cinta pertama… katanya hanya cinta monyet. Begitulah orang-orang menyebutnya—cinta yang datang sebentar, singgah sekejap, lalu hilang tanpa jejak. Namun bagiku, cinta itu nyata. Ia hadir tanpa diminta, tumbuh tanpa direncanakan, dan meninggalkan luka yang tak mudah dilupakan. Semua berawal saat aku duduk di bangku SMP. Namanya Pak Arif, guru Fisika yang dikenal tegas, cerdas, dan berwibawa. Di mataku yang masih remaja, beliau bukan sekadar guru. Ada rasa kagum yang perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa kujelaskan. Setiap beliau mengajar, aku selalu duduk paling depan, berpura-pura fokus mencatat, padahal sesekali mencuri pandang. Entah sejak kapan, kebiasaan sederhana itu berubah menjadi rutinitas yang membuat hariku terasa lengkap. Yang membuat segalanya semakin berwarna adalah kebiasaan kami berangkat...

Jejak Ramadhan di Tanah Suci dan Hangatnya Idul Fitri di Tanah Air // Nala Arwi

Di awal Ramadhan tahun itu, hatiku dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan, antara haru, syukur, dan sedikit tak percaya. Untuk pertama kalinya, aku mendapat kesempatan menunaikan ibadah umroh. Perjalanan yang selama ini hanya menjadi doa, akhirnya Allah kabulkan tepat di bulan suci. Hari-hari pertama di tanah suci terasa begitu berbeda. Makkah menyambut dengan suasana yang khusyuk dan damai. Setiap langkah menuju Masjidil Haram serasa dipenuhi getaran iman. Saat pertama kali melihat Ka'bah, air mata tak terbendung. Semua doa, semua harapan, seakan tumpah dalam satu sujud panjang. Selama 12 hari menjalankan ibadah umroh, setiap waktu terasa begitu berharga. Selain beribadah, kami juga melakukan city tour di sekitar kota Makkah dan Madinah. Di Makkah, kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang selama ini hanya kami dengar dari cerita—Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Padang Arafah. Di Madinah, suasana terasa lebih tenang. Masjid Nabawi dengan payung-payungnya yang mega...