Suasana Lebaran itu memang unik. Wangi opor ayam yang mengepul di meja makan, tumpukan kaleng biskuit yang isinya rengginang, sampai suara tawa sepupu yang sudah setahun tidak bersua. Namun, di balik hangatnya jabat tangan, ada satu momen yang seringkali bikin jantung berdegup lebih kencang daripada suara bedug takbiran: momen ketika salah satu keluarga besar mulai menarik napas panjang, tersenyum penuh arti, lalu meluncurkan pertanyaan keramat, "Kapan nikah?"
Rasanya seperti sedang asyik menikmati ketupat, tiba-tiba tergigit lengkuas. Kaget, sedikit pahit, tapi mau marah pun tidak bisa.
Hari nan fitri seharusnya menjadi momen pembersihan hati. Kita datang dengan kerendahan hati untuk saling memaafkan segala khilaf yang sengaja maupun tidak. Maka dari itu, mari kita buat kesepakatan kecil di meja makan tahun ini: maaf-maafan dulu, urusan jodoh kita bahas pelan-pelan sambil nambah porsi opor.
Sebenarnya, pertanyaan "kapan nikah" seringkali datang dari rasa peduli yang saking besarnya sampai tidak tahu lagi harus basa-basi lewat mana. Bagi paman atau bibi, itu adalah bentuk perhatian. Tapi bagi kita yang menjalaninya, jawaban pertanyaan itu tidak semudah membalikkan gorengan di penggorengan. Ada proses, ada doa, dan ada waktu yang sedang kita usahakan dengan sebaik-baiknya.
Daripada suasana jadi kaku atau kita malah memilih "bersembunyi" di kamar hanya untuk menghindari interogasi keluarga, lebih baik kita bawa santai saja. Lebaran adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa silaturahmi lebih berharga daripada sekadar status di kartu keluarga. Kita bisa menjawab dengan senyuman paling manis, meminta doa yang tulus, lalu dengan gesit mengalihkan pembicaraan ke betapa empuknya daging rendang buatan nenek atau betapa serunya cerita mudik tahun ini.
Mari kita kembalikan esensi Idulfitri sebagai jembatan untuk mempererat tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang karena kesibukan masing-masing. Jangan biarkan satu pertanyaan membuat kita enggan berkumpul. Biarkan hati kita kembali kosong-kosong (0-0) dari rasa kesal.
Setelah semua tangan terjabat dan kata maaf terucap, barulah kita duduk melingkar. Nikmati tiap suapan opor ayam yang gurih itu. Kalaupun pertanyaan itu muncul lagi, anggap saja itu bumbu penyedap suasana. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai di pelaminan, tapi seberapa kuat kita menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang benar-benar peduli pada kebahagiaan kita.
Komentar
Posting Komentar