Langsung ke konten utama
CINTAKU TAK KAN TERLEPAS DARI ORANG YANG MELAHIRKANKU Berikut adalah QS An-Nisa’ ayat 36 beserta terjemahannya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” Ayat ini menegaskan bahwa setelah perintah menyembah Allah, kewajiban utama berikutnya adalah berbuat baik kepada orang tua, termasuk ibu, sebagai wujud cinta dan bakti seorang anak   Cintaku tak ...
image.png


CINTAKU TAK KAN TERLEPAS DARI ORANG YANG MELAHIRKANKU

Berikut adalah QS An-Nisa’ ayat 36 beserta terjemahannya:


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا


“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ayat ini menegaskan bahwa setelah perintah menyembah Allah, kewajiban utama berikutnya adalah berbuat baik kepada orang tua, termasuk ibu, sebagai wujud cinta dan bakti seorang anak

 

Cintaku tak akan pernah terlepas dari sosok yang telah melahirkanku ke dunia ini—ibuku. Ia adalah awal dari segala kisah dalam hidupku, tempat pertama aku mengenal kasih sayang yang tulus tanpa syarat. Sejak aku belum mampu melihat dunia, ia telah lebih dahulu merasakan kehadiranku dengan penuh harap dan doa. Sembilan bulan ia mengandungku, menahan rasa lelah, sakit, dan kekhawatiran, hanya demi menyambutku dengan senyuman.

Cinta seorang ibu bukanlah cinta yang mudah digantikan. Ia tidak pernah meminta balasan, tidak pernah menghitung pengorbanannya, dan tidak pernah lelah mendoakan anaknya dalam setiap sujudnya. Bahkan ketika aku tumbuh dan mulai melangkah jauh, ia tetap menjadi tempat pulang yang paling tenang. Dalam diamnya, ada doa. Dalam tegurnya, ada kasih. Dalam lelahnya, ada ketulusan yang tak terucap.

Seringkali aku lupa betapa besar jasanya. Aku sibuk mengejar dunia, hingga tanpa sadar mengabaikan peluk hangat yang selalu tersedia untukku. Namun setiap kali aku terjatuh, aku sadar bahwa ibuku adalah orang pertama yang akan mengulurkan tangan tanpa menghakimi. Ia tidak melihat kekuranganku, tetapi selalu percaya bahwa aku mampu menjadi lebih baik.

Cinta ini tidak akan pernah pudar oleh waktu. Ia justru semakin tumbuh seiring aku memahami arti pengorbanan dan ketulusan. Aku belajar bahwa membahagiakan ibu bukan sekadar kewajiban, tetapi kehormatan. Setiap senyum yang terukir di wajahnya adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Aku mungkin tidak akan pernah mampu membalas semua yang telah ia berikan. Namun aku bisa berusaha untuk menjadi anak yang berbakti, yang selalu menghormati, menjaga perasaannya, dan mendoakannya dalam setiap langkah hidupku. Karena bagiku, mencintai ibu bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang sikap dan tindakan nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...