Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Bekal Pendidikan untuk Gen Alpha / Nailul Fauziati Rizqi

Gen Alpha mereka menyebutnya saat ini, adalah generasi yang lahir mulai tahun 2010 ke atas. Sederhananya siswa menengah pertama termasuk dalam generasi ini. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat, seperti kecerdasan buatan, AI (Artificial Intelligence), dan sebagainya. Dunia mereka sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, pendidikan untuk Gen Alpha juga harus disiapkan secara berbeda dan lebih adaptif.

Anak-anak Gen Alpha cenderung cepat dalam memahami teknologi dan terbiasa dengan pembelajaran visual dan interaktif. Tak dapat dipungkiri Sistem pendidikan masa depan perlu memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses belajar yang saat ini sedang digalakkan.

Namun, pendidikan tidak hanya soal teknologi. Pendidikan karakter dan pemdidikan keagamaan sangat perlu dibekalkan kepada Gen Alpha. Mengapa demikian? Karena Gen Alpha terlalu kreatif memanfaatkan teknologi tanpa tau akibat setelahnya, terlalu asyik bermain di dunia maya sehingga adab dan karakter mulai luntur.

Madrasah dan lembaga pendidikan menjadi tempat utama untuk menanamkan nilai-nilai positif serta membekali generasi ini dengan keterampilan berpikir kritis serta benar atau tidaknya atas tindakan yang harus dilakukan di dunia nyata.

Dengan pendidikan yang tepat, Gen Alpha akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak secara emosional dan sosial. Mereka yang mau belajar saat ini adalah pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan global dan menciptakan solusi untuk masa depan yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...