Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Merah Putih Berkisah tentang  Indonesiaku/Elya Qoidah Mahbubah.9A


     Merah Putih tidak sekedar bendera.ia adalah lambang hidup dalam setiap anak bangsa.Warna merah melambangkan keberanian,dan pengorbanan pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan.putihnya melambangkan kesucian,dan niat murni untuk membangun negeri tercinta. Di balik setiap helai kain yang berkibar, tersimpan kisah panjang perjuangan bangsa Indonesia.
      Bendera itu menyimpan kisah tentang persatuan. Di balik warnanya, terselip pesan bahwa meskipun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya, kita tetap satu dalam semangat "Bhinneka Tunggal Ika". Merah Putih mengikat perbedaan itu menjadi kekuatan, mengingatkan kita bahwa persatuan lebih berharga daripada perpecahan.
     Ketika bendera Merah Putih berkibar, terselip kisah tentang tetesan darah para pejuang yang gugur di medan perang. Mereka rela kehilangan segalanya agar kita, generasi penerus, dapat menikmati kemerdekaan. Setiap helaian kainnya membawa pesan agar kita tidak pernah melupakan jasa mereka. Di balik kibaran itu, tersimpan pula harapan akan persatuan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, meskipun berbeda bahasa, suku, budaya, maupun agama.
        Bagi Indonesiaku, Merah Putih adalah pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan.Mustahil jika kita tidak mampu 
berdiri tegak menghadapi tantangan zaman.Warna itu mengajarkan bahwa keberanian harus diimbangi dengan ketulusan, serta semangat perjuangan harus berjalan bersama kesucian niat.
        Kini, tugas kita sebagai anak bangsa adalah menjaga dan meneruskan makna yang terkandung dalam Merah Putih.Dengan belajar sungguh-sungguh, bekerja keras, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kita bisa mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. Merah Putih terus berkisah tentang Indonesiaku, sebuah negeri yang indah, kaya, dan penuh harapan untuk masa depan gemilang.Mari kita jaga bersama selamanya, Indonesiaku.
       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...