Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan "Cinta" / Enki D.N. S.Pd. M.Pd.

Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...

Perpustakaan Ramah Siswa : Kunci Suasana Madrasah yang Positif dan Inspiratif

 Lingkungan belajar yang menyenangkan sangat berdampak pada semangat dan prestasi siswa. Membuat siswa senang bukan hanya tugas guru, tapi juga seluruh warga madrasah, termasuk kami di perpustakaan.

Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar kami berusaha menciptakan suasana ramah dan menarik bagi siswa. Menyediakan koleksi buku yang variatif dan aktual, serta ruang baca yang nyaman bisa jadi daya tarik. Penerangan yang cukup, meja dan kursi yang ergonomis, serta tata letak yang rapi memberi suasana belajar yang menyenangkan.

Kegiatan di perpustakaan perlu dirancang supaya siswa aktif dan terlibat. Misalnya dengan mengadakan lomba membaca, diskusi buku, atau workshop menulis. Kegiatan seperti ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga mempererat hubungan sosial antar siswa sehingga mereka merasa betah.

Kami juga berupaya menjembatani siswa dengan teknologi. Penyediaan komputer dan koneksi internet menjadi fasilitas penting yang mempermudah akses informasi. Dengan fasilitas ini, siswa dapat belajar mandiri dan mengeksplorasi ilmu lebih luas tanpa harus merasa bosan.

Selain itu, perpustakaan sebagai pusat informasi juga berperan mengajarkan siswa etika peminjaman buku dan menghargai karya orang lain. Sikap ini penting agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter. 

Agar siswa senang di madrasah, perpustakaan harus menjadi ruang yang nyaman, interaktif, dan kaya sumber belajar. Perpustakaan juga bisa menjadi sarana rekreatif untuk siswa sehingga siswa bisa nyaman berada di Madrasah. 
Dengan peran aktif pustakawan dan dukungan seluruh warga madrasah, semangat belajar siswa akan terus tumbuh dan menjadikan madrasah tempat favorit mereka.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...