- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Langit Jember malam itu pekat. Hujan mengguyur deras atap kosku di Umbulsari, tapi lebih deras lagi suara tangisku yang kutahan. Tiga bulan sudah lamaran kerjaku ditolak. Tabungan menipis. Telepon dari Ibu tadi sore masih terngiang: "Nak, Bapak di rumah sakit lagi. Doakan ya."
Aku terduduk di atas sajadah lusuh. Tak ada kata yang tersisa kecuali air mata. Malam-malam sebelumnya aku sibuk mengeluh. Malam ini aku hanya bisa berbisik, "Ya Rabb, aku lelah jadi kuat. Kalau memang ini jalan-Mu, tolong genggam aku."
Itu bukan doa yang indah. Hanya lirih, patah-patah, jujur. Setelahnya aku tertidur di atas sajadah, membiarkan hujan menghapus sisa isak.
Subuh membangunkan aku dengan cara aneh. HP bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:
Jantungku berhenti, lalu berdetak kencang. Sekolah kecil di pinggir desa yang tiga minggu lalu kutitipkan lamaran tanpa harapan. Jaraknya hanya 2 kilometer dari kos.
Jam 8.30 aku sudah rapi. Jas hujan menutupi kemeja satu-satunya yang masih layak. Di ruang kepala sekolah, Bu Anisa menyambutku dengan senyum teduh. "Kami suka esai Mas tentang 'mendidik dengan cinta'. Sekolah kami butuh itu."
Tesnya sederhana: mengajar kelas 4 selama 30 menit. Aku gemetar. Tapi saat melihat 18 pasang mata polos menatapku, lidahnya tiba-tiba fasih. Kami belajar matematika lewat cerita tentang sawah dan hasil panen. Anak-anak tertawa. Aku ikut. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dadaku terasa lapang.
Siang itu Bu Anisa menjabat tanganku. "Mulai besok ya, Pak Guru. Bapak Anda pasti bangga." Aku tertegun. Aku tidak pernah cerita soal Bapak.
Di perjalanan pulang, hujan reda. Di warung dekat sekolah, aku bertemu seorang kakek tua penjual tempe. "Cari kerja ya, Nak?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk. Ia menyodorkan sepotong tempe goreng hangat. "Kemarin saya lihat kamu jalan menunduk terus. Saya doakan biar jalannya diangkat. Alhamdulillah kalau sudah dijawab."
Aku tercekat. Jadi doa lirihku diaminkan juga oleh orang lain. Oleh semesta.
Malamnya Ibu menelepon lagi. Suaranya bergetar bahagia. "Bapak sudah boleh pulang, Nak. Dokter bilang keajaiban." Aku menatap sajadah lusuh di pojok kamar. Di ujung doa yang patah, ternyata Allah meletakkan jawaban yang utuh.
Kasih-Nya tidak selalu datang dalam bentuk yang kuminta. Kadang ia datang sebagai pekerjaan di sekolah kecil, sebagai tempe goreng dari orang asing, sebagai kabar Bapak yang membaik. Kasih itu kutemukan bukan saat aku kuat, tapi justru saat aku mengaku kalah.
Di ujung doa, aku tidak hanya menemukan rezeki. Aku menemukan Tuhan yang mendengar, bahkan untuk rintihan yang tak sempat menjadi kalimat. [394 kata]
Mau aku lanjutin jadi cerpen bersambung atau dibuatin versi puitisnya juga?
Komentar
Posting Komentar