- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dulu, pelajaran Bahasa Indonesia di jam terakhir selalu terasa menjenuhkan. Deretan materi tentang kalimat efektif, teks eksposisi, dan kaidah kebahasaan membuat kepala penat pusing kepalang. Buku paket tebal, suara guru monoton, dan tugas merangkum yang tiada habisnya, membuat banyak siswa menganggap Bahasa Indonesia hanya sekadar hafalan yang membosankan. Aku pun salah satunya siswa yang paling tidak suka terhadap pelajaran bahasa Indonesia.
Namun semua berubah ketika di bangku kuliah aku bertemu dengannya. Ia mahasiswa semester akhir yang jadi asisten dosen Bahasa Indonesia. Caranya menjelaskan majas tidak lewat definisi kaku, tapi lewat puisi dan lirik lagu. Tiba-tiba metafora jadi indah, diksi jadi bermakna, dan tanda baca punya nyawa. Dari rasa kagum pada caranya mengajar, tumbuh benih cinta. Diam-diam, pelajaran yang dulu kujauhi justru menjadi alasan aku bertahan di kelas setiap Minggu.
Cinta itu menuntunku memilih jalan yang sama. Aku mengambil pendidikan Bahasa Indonesia, bukan karena terpaksa, tapi karena ingin bisa “menghidupkan” pelajaran ini seperti yang ia lakukan. Skripsi, PPL, dan yudisium kujalani dengan satu tujuan: menjadi guru Bahasa Indonesia yang tidak membuat muridnya mengantuk. Dan akhirnya, ia yang dulu kukagumi kini menjadi teman hidup yang selalu mendukung langkahku di depan kelas.
Hari pertama mengajar, aku gugup. Tapi aku ingat pesannya: “Bahasa itu jembatan, bukan tembok.” Maka aku mulai kelas bukan dengan menyuruh buka halaman 12, melainkan dengan cerita. Aku ajak anak-anak menulis surat untuk diri mereka di masa depan, menganalisis lirik lagu yang mereka suka, sampai debat seru tentang isi berita hoaks. Pelan-pelan, “menjenuhkan” berubah jadi “menyenangkan”.
Tahun berganti, ilmu yang dulu kurasa hambar ternyata mampu kutransfer ke siswa dengan cara yang berbeda. Ada yang menang lomba cipta puisi, ada yang berani jadi MC acara madrasah, ada yang akhirnya suka membaca karena banyak cerita yang menarik di perpustakaan yang mampu mewujudkan dalam meningkatkan Literasi . Nilai rapor mungkin hanya angka, tapi keberanian mereka berbicara dan menulis adalah manfaat yang tidak bisa diukur apa lagi menikmati cerita baik dilisankan maupun menuliskan.
Kini aku paham, pelajaran Bahasa Indonesia yang dulu menjenuhkan justru menjadi tujuan akhir yang mempertemukanku dengan cinta, lalu mengantarkanku menjadi cinta baru bagi siswa dengan senang mengingat bahasa Indonesia seakan tak jauh dari seni. Dari benci jadi cinta, dari jenuh jadi luluh. Ternyata, semua ilmu akan sampai, asal disampaikan dengan hati. Salam Literasi!
Komentar
Posting Komentar