Di awal Ramadhan tahun itu, hatiku dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan, antara haru, syukur, dan sedikit tak percaya. Untuk pertama kalinya, aku mendapat kesempatan menunaikan ibadah umroh. Perjalanan yang selama ini hanya menjadi doa, akhirnya Allah kabulkan tepat di bulan suci. Hari-hari pertama di tanah suci terasa begitu berbeda. Makkah menyambut dengan suasana yang khusyuk dan damai. Setiap langkah menuju Masjidil Haram serasa dipenuhi getaran iman. Saat pertama kali melihat Ka'bah, air mata tak terbendung. Semua doa, semua harapan, seakan tumpah dalam satu sujud panjang.
Selama 12 hari menjalankan ibadah umroh, setiap waktu terasa begitu berharga. Selain beribadah, kami juga melakukan city tour di sekitar kota Makkah dan Madinah. Di Makkah, kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang selama ini hanya kami dengar dari cerita—Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Padang Arafah. Di Madinah, suasana terasa lebih tenang. Masjid Nabawi dengan payung-payungnya yang megah memberikan keteduhan, bukan hanya secara fisik, tapi juga di hati.
Puasa di tanah suci memberikan pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan di Indonesia. Di Makkah, suasana berbuka begitu meriah dan penuh kebersamaan. Orang-orang dari berbagai negara duduk berjejer, berbagi kurma dan air zamzam tanpa memandang siapa di sampingnya. Tidak ada sekat bahasa, tidak ada perbedaan—semua terasa seperti satu keluarga besar. Sementara di Indonesia, suasana lebih hangat dalam lingkup keluarga, dengan hidangan khas yang selalu dirindukan. Keduanya indah, hanya saja dengan cara yang berbeda.
Tak terasa, waktu 12 hari itu berlalu begitu cepat. Hari kepulangan pun tiba. Ada rasa bahagia karena bisa menunaikan ibadah dengan lancar, namun juga terselip kesedihan yang dalam—entah kapan lagi bisa kembali ke tanah suci. Perasaan itu terus mengiringi perjalanan pulang ke tanah air.
Di tengah perjalanan, sempat ada kekhawatiran karena situasi dunia yang memanas akibat konflik antara beberapa negara besar. Namun, Alhamdulillah, kami semua diberikan keselamatan hingga tiba kembali di Indonesia dengan selamat. Rasa syukur itu semakin dalam—bukan hanya karena perjalanan ibadah, tetapi juga karena perlindungan Allah di setiap langkah.
Kepulangan ke tanah air menjadi momen yang tak kalah membahagiakan. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga, merasakan hangatnya kebersamaan di bulan Ramadhan hingga akhirnya menyambut Hari Raya Idul Fitri. Hari kemenangan itu diisi dengan saling bermaafan—kepada keluarga, kerabat, tetangga, hingga teman kerja. Senyum dan pelukan menjadi bahasa yang menyatukan hati.
Tanggal 30 Maret 2026, hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran, kami melanjutkan tradisi silaturahmi. Kami mengunjungi tetangga sekitar MTsN 7 Jember, bersilaturahmi dengan komite, serta bertandang ke kediaman beberapa guru. Suasana kekeluargaan begitu terasa—penuh canda, cerita, dan rasa syukur yang tak henti diucapkan.
Ramadhan tahun itu menjadi salah satu yang paling berkesan dalam hidupku. Sebuah perjalanan spiritual yang tak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mempererat hubungan dengan sesama.
Semoga Allah mempertemukan kami kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya, dalam keadaan sehat, penuh kebahagiaan, dan bersama keluarga yang lengkap. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar