- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ada sebuah stigma yang sering kali membuntuti status lajang: bahwa kita adalah buku yang bab tengahnya hilang, atau teka-teki yang kekurangan satu kepingan penting. Namun, belakangan ini aku menyadari bahwa menjadi sendiri bukanlah sebuah kekurangan. Ini adalah sebuah jeda. Dan jika dalam musik jeda adalah ruang untuk bernapas sebelum nada tinggi dimulai, maka dalam hidup, jeda adalah ruang untuk menemukan siapa aku sebenarnya sebelum aku menjadi "kita".
Selamat datang di catatanku, sebuah Single’s Diary.
Pagi ini, aku terbangun tanpa distraksi. Tidak ada notifikasi yang menuntut perhatian segera, tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan suasana hati dengan orang lain. Aku menyeduh kopi, merasakan uapnya menyentuh wajah, dan menikmati kesunyian yang jujur. Dahulu, sunyi ini menakutkan. Aku akan segera menyalakan televisi atau memutar musik keras-keras hanya untuk mengusir rasa sepi. Namun kini, aku belajar berteman dengannya.
Menikmati jeda berarti belajar untuk berkencan dengan diri sendiri. Minggu lalu, aku pergi ke bioskop sendirian. Awalnya terasa canggung melihat pasangan di sebelah kanan dan kiri berbagi popcorn. Namun, saat film dimulai, aku menyadari sebuah kebebasan kecil: aku tidak perlu berkompromi tentang film apa yang ditonton, aku tidak perlu menjelaskan plot yang membingungkan, dan aku bisa sepenuhnya tenggelam dalam emosi ceritanya. Ada kekuatan yang tumbuh saat kita berani melangkah sendirian tanpa merasa perlu dikasihani.
Dalam masa jeda ini, aku juga mulai membereskan "rumah" batinku. Aku percaya bahwa sebelum aku meminta seseorang untuk menetap, aku harus memastikan bahwa rumah yang kutawarkan adalah tempat yang nyaman, bukan bangunan yang masih penuh puing-puing luka masa lalu. Aku menggunakan waktu ini untuk hobi yang sempat tertunda, memperdalam spiritualitas, dan memahami batasan-batasanku sendiri. Aku belajar bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadiku, bukan tugas yang akan kuserahkan pada pasanganku kelak.
Tentu saja, ada momen-momen di mana rasa ingin berbagi itu muncul. Saat melihat matahari terbenam yang begitu indah, atau saat aku mencapai keberhasilan kecil di kantor. Ada keinginan untuk mengirim pesan dan berkata, "Lihat, hari ini sangat luar biasa." Namun, aku meredamnya dengan senyum. Aku tahu, semesta sedang menyiapkan seseorang di luar sana yang mungkin juga sedang menikmati jedanya sendiri. Mungkin ia juga sedang belajar, sedang tumbuh, dan sedang diperbaiki oleh waktu agar saat kami bertemu nanti, kami adalah dua pribadi yang utuh.
Menunggu tidak lagi terasa seperti siksaan saat kita memiliki tujuan dalam penantian itu. Aku tidak sedang menunggu untuk "diselamatkan" dari kesepian. Aku sedang menunggu untuk bertemu dengan seseorang yang keberadaannya akan melipatgandakan kebahagiaan yang sudah kubangun sendiri.
Jadi, untuk saat ini, aku akan terus menulis di buku harian ini. Tentang buku-buku yang kubaca, tentang tempat-tempat baru yang kukunjungi sendirian, dan tentang tawa yang lahir dari kemandirian. Jeda ini adalah hadiah. Sebelum suatu hari nanti bab baru dimulai dan aku harus berbagi ruang, aku akan menikmati setiap detik menjadi satu-satunya pemilik hatiku.
Sebab aku tahu, pertemuan yang paling indah sering kali terjadi pada mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dan sebelum namamu kutuliskan di halaman depan, biarlah aku menikmati sajak-sajak tenang di tengah jeda ini.
Komentar
Posting Komentar