Langsung ke konten utama

Ali Imron /Gizi Gratis, Kasih Berlimpah: Potret Interaksi Hangat Siswa MTsN 7 Jember


Uploaded Image


Bel jam istirahat berbunyi nyaring di MTsN 7 Jember. Namun hari ini berbeda. Bukan hanya perut yang menanti, tapi juga hati. Sejak program Makan Bergizi Gratis dijalankan, aula sekolah berubah jadi ruang kebahagiaan paling ramai.

Aroma sayur sop dan ayam kecap menyambut 32 siswa kelas 8C yang berbaris tertib. Di meja panjang, kotak makan stainless tersusun rapi. "Bismillah dulu ya," ucap Pak Fajar, wali kelas, sambil tersenyum. Serentak, doa mengalun pelan. Setelah itu, aula yang tadinya hening langsung pecah oleh bunyi sendok beradu dan tawa.

"Lauknya ayam, Bu! Aku suka banget," seru Dimas ke temannya, Rafi. Tanpa diminta, Rafi menyodorkan potongan tempe miliknya. "Tukar ya, aku lagi nggak mau ayam." Interaksi kecil itu sederhana, tapi di situlah kasih tumbuh. Mereka belajar berbagi sebelum kenyang sendiri.

Di sudut lain, Siti dengan telaten menyuapi Aisyah yang tangannya diperban karena jatuh kemarin. "Pelan-pelan aja, Syah. Nanti kesedak," bisiknya. Aisyah mengangguk, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena merasa dijaga. Guru-guru yang mendampingi tidak banyak menegur. Mereka cukup duduk di antara siswa, ikut makan, ikut mendengar. Bu Anis, guru IPA, malah diminta siswa mengoreksi rasa masakan. "Kurang asin dikit, Bu. Besok bilang ke katering ya," celetuk Zahra polos. Gelak tawa pun pecah.

Makanan bergizi gratis ini bukan sekadar program pemerintah. Di MTsN 7 Jember, ia menjelma jadi jembatan interaksi. Anak yang biasanya pendiam jadi berani bercerita tentang cita-citanya di sela suapan nasi. Anak yang pemilih makanan jadi belajar menghargai sayur karena melihat temannya makan dengan lahap. Bahkan, siswa yang ekonomi keluarganya pas-pasan kini datang sekolah dengan wajah lebih cerah. "Aku jadi nggak bingung bawa bekal apa, Ustaz. Uang saku bisa buat jajan buku," kata Ilham lirih.

Kasih berlimpah bukan dari menu mewahnya. Ia hadir dalam bentuk perhatian: guru yang memastikan semua dapat, teman yang mengalah demi yang lain, dan doa yang dibaca bersama sebelum makan. Piring-piring kosong bukan tanda rakus, tapi tanda syukur.

Pukul 12.30, bel masuk berbunyi lagi. Aula kembali lengang. Tapi sisa kehangatannya masih terasa. Di papan tulis kelas 8C, seseorang menulis dengan kapur: _"Terima kasih, hari ini perut dan hati kami kenyang."_

Gizi menguatkan tubuh. Interaksi menguatkan ukhuwah. Dan di MTsN 7 Jember, keduanya disajikan gratis setiap hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...