Langsung ke konten utama

Makan Bergizi Gratis dan Taruhan Besar Indonesia Emas 2045 / Moh. Fatkur Rohman Sholeh, S.S

Indonesia kini digadang-gadang sebagai negara dengan bonus demografi yang cukup besar. Pemerintah sangat yakin bahwa bonus demografi tersebut akan membawa Indonesia pada puncak kejayaannya yang selama ini kita kenal sebagai Indonesia Emas 2045.  Salah satu inisiatif pemerintah yang dilakukan untuk mencapai Indonesia Emas 2045 adalah melalaui program strategis Makan Bergizi Gratis.

Dikutip dari Website idxchannel, sumber dana MBG sebagian diambil dari sektor Pendidikan sebanyak 83%, Kesehatan 9,2%, dan sektor ekonomi 7,4% dengan total dari sektor tersebut adalah Rp. 267, 4 triliun. Sedangkan untuk total pagu keseluruhan mencapa Rp. 335 Triliun.

Jika dibuat perbandingan, APBN Indonsia pada tahun 2026 ini Rp3.842,7 triliun, sedangkan anggaran untuk MBG Rp. 335 Triliun, maka presentase anggaran MBG di negara tercinta ini adalah sekitar 8,7 persen. Sungguh angka tersebut bukanlah angka yang kecil. Itulah sekilas gambaran bagaimana program MBG di negara Indonesia.

Selanjutnya bagaimana dengan realisasi MBG di sekolah-sekolah, utamanya di madrasah? Alhamdulillah selama MBG dilaksanakan di madrasah, khususnya di MTs Negeri 7 Jember, belum pernah ada kejadian-kejadian negatif seperti yang diberitakan di sekolah-sekolah lain, seperti keracunan, makanan basi, dan lain sebagainya. Di MTs Negeri 7 Jember, MBG selalu dinanti-nantikan oleh siswa setiap hari. Menu yang bervariasi membuat siswa tidak cepat bosan dengan hidangan yang mereka makan.

Bahkan, bagi sebagian siswa, program MBG bukan sekadar kegiatan makan bersama di sekolah. Program ini menjadi penyelamat bagi perut yang keroncongan ketika pagi hari mereka belum sempat sarapan dari rumah. Tidak sedikit siswa yang harus berangkat sejak pagi, menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan membantu orang tua terlebih dahulu sebelum berangkat ke madrasah. Kehadiran MBG tentu menjadi energi tambahan agar mereka tetap fokus mengikuti pembelajaran.

Di lingkungan MTsN 7 Jember, suasana pelaksanaan MBG terlihat begitu hangat. Ketika jam pembagian makanan tiba, para siswa tampak antusias dan tertib menunggu giliran. Aroma makanan yang menggugah selera sering kali membuat suasana madrasah menjadi lebih hidup. Tidak hanya mengenyangkan, menu yang disajikan juga memperhatikan unsur gizi yang dibutuhkan siswa usia remaja, mulai dari karbohidrat, protein, sayur, hingga buah.

Program ini secara tidak langsung juga menanamkan nilai-nilai positif kepada siswa. Mereka belajar disiplin, tertib antre, menjaga kebersihan, hingga menghargai makanan. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya setelah makan menjadi budaya yang terus ditanamkan di madrasah. Bahkan, momen makan bersama sering kali mempererat hubungan antarsiswa maupun antara siswa dengan guru.

Di sisi lain, MBG juga membantu meringankan beban sebagian orang tua. Dengan adanya makan bergizi gratis di sekolah, pengeluaran harian anak untuk membeli makanan dapat dikurangi. Hal kecil seperti ini tentu sangat berarti, terutama bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak sekolah.

Namun demikian, program sebesar MBG tentu membutuhkan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan. Anggaran yang sangat besar harus benar-benar dikelola secara amanah dan tepat sasaran. Kualitas makanan, kebersihan pengolahan, distribusi, hingga kandungan gizinya harus selalu menjadi perhatian utama. Jangan sampai program yang memiliki tujuan mulia justru menimbulkan masalah baru akibat kurangnya pengawasan.

Jika program MBG dapat dijalankan secara konsisten, transparan, dan tepat sasaran, maka manfaatnya akan sangat besar bagi generasi muda Indonesia. Anak-anak yang sehat, kenyang, dan bahagia akan lebih siap belajar, lebih fokus menerima pelajaran, dan memiliki semangat untuk meraih cita-cita. Dari ruang-ruang kelas sederhana di berbagai pelosok negeri inilah, mimpi besar Indonesia Emas 2045 perlahan sedang dibangun.

Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia Emas bukan hanya tentang pembangunan gedung tinggi atau kemajuan teknologi semata. Indonesia Emas juga ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Dan terkadang, langkah besar menuju masa depan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana: sepiring makanan bergizi yang hadir setiap hari di sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...