Langsung ke konten utama
Menemukan Jiwa di Gerbang Madrasah/Yatun Sundarsih,S.Pd



               Setiap Senin pagi, rutinitas saya dimulai di gerbang Madrasah. Berdiri menyambut kedatangan anak-anak.Di gerbang Madrasah juga bisa melihat bagaimana anak-anak itu sampai ke madrasah.Ada yang naik Sepeda pancal,ada yang naik sepeda listrik ada pula yang diantar oleh orang-tua maupun keluarganya.Disana saya mengumbar senyum terbaik, dan menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan para siswi yang datang satu per satu.Lewat sentuhan tangan yang hangat dan sapaan ringkas itu, saya seperti sedang membaca "buku harian" mereka yang tak tertulis. Ada yang menyambutnya dengan binar mata ceria, namun tak jarang ada tangan yang dingin, lemas, atau mata yang sengaja menghindari tatapan saya.Saat itu insting guru BK mulai bekerja,Kenapa anak ini seperti itu.Apakah memang anaknya pemalu,atau karena rasa cemas dan menutupi sesuatu.Di gerbang sekolah juga menjadi identifikasi awal terjadinya pelanggaran.Pelanggaran yang dilakukan bermacam-macam,baik pelanggaran kedisiplinan maupun pelanggaran ketertiban dan keamanan.
               Sebagai seorang Guru BK, momen di gerbang ini bukan sekadar formalitas kedisiplinan. Ini adalah radar awal saya. Di sinilah tugas pelayanan bimbingan yang sesungguhnya dimulai, bahkan sebelum bel masuk berbunyi.
Seringkali, peradaban diukur dari megahnya gedung atau tingginya nilai akademik di atas kertas rapor. Namun di ruang BK, kami melihat sisi yang berbeda. Di sinilah peran kami menjadi krusial: menjadi jembatan di tengah badai emosi remaja. Kami bukan polisi sekolah yang gemar menghukum, melainkan penyedia ruang aman (*safe space*) tempat mereka bisa menumpahkan segala rapuh dan ragunya tanpa takut dihakimi.Walaupun kadang masih ada saja yang menyamakan seorang guru BK dengan polisi sekolah.
              Pendidikan karakter bagi seorang Guru BK adalah seni mendengarkan,bukan menghakimi.Saat dunia menuntut mereka untuk selalu sempurna, kami hadir untuk mengurai benang kusut di kepala mereka—mulai dari konflik pertemanan, kecemasan masa depan, hingga luka yang mereka bawa dari rumah. Di dalam ruang konseling yang tenang inilah karakter sesungguhnya dirajut kembali. Kami membantu mereka mengenali potensi diri, belajar meregulasi emosi, dan bangkit dari kesalahan masa lalu.
               Nadi utama peradaban tidak selalu berdenyut dari panggung-panggung besar.Namun ia berdenyut dari kesabaran kita memeluk kerapuhan siswa, dari ketulusan kita mengusap air mata mereka,mendengarkan keluh kesahnya tanpa memotong ataupun menyalahkan dan dari konsistensi kita menyambut mereka di gerbang Madrasah setiap pagi. Lewat sentuhan empati dan bimbingan yang memanusiakan manusia inilah, kita sedang menanam benih karakter yang kokoh agar kelak mereka tumbuh menjadi pilar peradaban yang berhati mulia.dan mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berkarakter,menghargai dan berdisiplin tinggi.

Uploaded Image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...