Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 setelah melalui proses perjuangan panjang selama 350 tahun atau tiga setengah abad melawan penjajah bangsa Eropa dengan didorong oleh semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Setelah Bangsa Indonesia di proklamasikan rakyat Indonesia terus berjuang hingga kedaulatan Indonesia diakui secara sah di kancah dunia internasional dengan berbagai bentuk perjuangan baik secara diplomasi maupun dengan genjatan senjata.perlu kita ketahui meski kita sudah merdeka masih banyak daerah - daerah yang belum merdeka penuh dan statusnya masih miliknya penjajah.Rakyat Indonesia selama 5 tahun mempertahankan kemerdekaan Indonesia Bulan Agustus adalah bulan yang penuh bersejarah dan sangat bermakna bagi bangsa Indonesia, karena pada bulan inilah Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus. Bulan Agustus menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan...
Menemukan Jiwa di Gerbang Madrasah/Yatun Sundarsih,S.Pd
Setiap Senin pagi, rutinitas saya dimulai di gerbang Madrasah. Berdiri menyambut kedatangan anak-anak.Di gerbang Madrasah juga bisa melihat bagaimana anak-anak itu sampai ke madrasah.Ada yang naik Sepeda pancal,ada yang naik sepeda listrik ada pula yang diantar oleh orang-tua maupun keluarganya.Disana saya mengumbar senyum terbaik, dan menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan para siswi yang datang satu per satu.Lewat sentuhan tangan yang hangat dan sapaan ringkas itu, saya seperti sedang membaca "buku harian" mereka yang tak tertulis. Ada yang menyambutnya dengan binar mata ceria, namun tak jarang ada tangan yang dingin, lemas, atau mata yang sengaja menghindari tatapan saya.Saat itu insting guru BK mulai bekerja,Kenapa anak ini seperti itu.Apakah memang anaknya pemalu,atau karena rasa cemas dan menutupi sesuatu.Di gerbang sekolah juga menjadi identifikasi awal terjadinya pelanggaran.Pelanggaran yang dilakukan bermacam-macam,baik pelanggaran kedisiplinan maupun pelanggaran ketertiban dan keamanan.
Sebagai seorang Guru BK, momen di gerbang ini bukan sekadar formalitas kedisiplinan. Ini adalah radar awal saya. Di sinilah tugas pelayanan bimbingan yang sesungguhnya dimulai, bahkan sebelum bel masuk berbunyi.
Seringkali, peradaban diukur dari megahnya gedung atau tingginya nilai akademik di atas kertas rapor. Namun di ruang BK, kami melihat sisi yang berbeda. Di sinilah peran kami menjadi krusial: menjadi jembatan di tengah badai emosi remaja. Kami bukan polisi sekolah yang gemar menghukum, melainkan penyedia ruang aman (*safe space*) tempat mereka bisa menumpahkan segala rapuh dan ragunya tanpa takut dihakimi.Walaupun kadang masih ada saja yang menyamakan seorang guru BK dengan polisi sekolah.
Pendidikan karakter bagi seorang Guru BK adalah seni mendengarkan,bukan menghakimi.Saat dunia menuntut mereka untuk selalu sempurna, kami hadir untuk mengurai benang kusut di kepala mereka—mulai dari konflik pertemanan, kecemasan masa depan, hingga luka yang mereka bawa dari rumah. Di dalam ruang konseling yang tenang inilah karakter sesungguhnya dirajut kembali. Kami membantu mereka mengenali potensi diri, belajar meregulasi emosi, dan bangkit dari kesalahan masa lalu.
Nadi utama peradaban tidak selalu berdenyut dari panggung-panggung besar.Namun ia berdenyut dari kesabaran kita memeluk kerapuhan siswa, dari ketulusan kita mengusap air mata mereka,mendengarkan keluh kesahnya tanpa memotong ataupun menyalahkan dan dari konsistensi kita menyambut mereka di gerbang Madrasah setiap pagi. Lewat sentuhan empati dan bimbingan yang memanusiakan manusia inilah, kita sedang menanam benih karakter yang kokoh agar kelak mereka tumbuh menjadi pilar peradaban yang berhati mulia.dan mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berkarakter,menghargai dan berdisiplin tinggi.
Komentar
Posting Komentar