Langsung ke konten utama

Sopan Santun Digital: PR Besar Pendidikan Karakter Masa Kini/ Miftahur Rizal, S.Pd.

Zaman sekarang, gadget sudah kayak organ tubuh tambahan. Bangun tidur yang dicari HP, mau tidur yang dilihat HP lagi. Lewat layar kecil itu, kita bisa menjelajah ke mana saja, kenalan sama siapa saja, dan berkomentar tentang apa saja. Tapi sadar enggak sih, seiring dengan makin bebasnya kita berselancar di dunia maya, ada satu hal yang sering ketinggalan di dunia nyata? Jawabannya adalah sopan santun.

Dulu, pendidikan karakter di sekolah atau di rumah fokusnya ke hal-hal fisik: bagaimana cara lewat di depan orang tua, cara bicara yang halus, atau cara menghormati guru di kelas. Sekarang, tantangannya bergeser. Ruang kelasnya sudah pindah ke kolom komentar Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp. Sayangnya, jempol netizen kita sering kali bergerak lebih cepat daripada pikiran. Ketikan yang penuh hujatan, cyberbullying, sampai penyebaran hoaks seolah-olah sudah jadi makanan sehari-hari. Banyak orang merasa aman berbuat kasar hanya karena mereka bersembunyi di balik akun anonim.

Inilah yang menjadi PR besar bagi pendidikan karakter masa kini. Kita harus mulai sadar kalau "jarimu harimaumu" itu nyata. Etika digital atau digital netiquette bukan lagi sekadar teori keren di buku pelajaran, tapi kebutuhan mendesak yang harus diajarkan sejak dini. Mendidik karakter anak zaman sekarang tidak cukup cuma dengan menyuruh mereka duduk rapi di kelas. Mereka harus diajari cara menyaring informasi, cara menyampaikan kritik yang membangun tanpa mencaci, dan cara menghargai perbedaan pendapat di media sosial.

Pendidikan karakter digital ini tidak bisa cuma dibebankan ke pundak guru di sekolah. Orang tua punya peran yang luar biasa besar. Menjadi contoh yang baik di dunia nyata itu wajib, tapi memantau dan memberi contoh cara berkomentar yang bijak di dunia maya juga tidak kalah penting. Kita perlu menanamkan prinsip sederhana: kalau kamu tidak akan mengucapkan kalimat kasar itu langsung di depan muka orangnya secara langsung, maka jangan pernah mengetiknya di kolom komentar.

Pada akhirnya, kepintaran akademik atau kecanggihan mengoperasikan teknologi bakal terasa hambar kalau tidak dibarengi dengan moral yang baik. Teknologi boleh terus maju dan makin canggih, tapi nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan rasa hormat harus tetap membumi. Yuk, kita mulai dari diri sendiri: gunakan jempol kita untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan: Pondasi Pembentukan Karakter dan Kepribadian Bangsa

Pendidikan merupakan elemen penting dalam membentuk karakter dan kepribadian suatu bangsa. Tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan juga berfungsi sebagai dasar pembentukan nilai-nilai moral, etika, dan identitas yang akan menjadi panduan hidup masyarakat di masa depan. Di Indonesia, pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat, toleran, dan berkepribadian kuat, serta mampu bersaing dalam kancah global. Karakter bangsa yang kokoh berawal dari pendidikan yang berkualitas dan berbasis nilai-nilai luhur. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap, perilaku, dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam masyarakat. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi, harus dapat menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong-royong, dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini akan me...

"Healing" Liburan, "Gass" PPG! / Enki Dani Nugroho, S.Pd. M.Pd.

Libur semester seringkali identik dengan waktu untuk santai, tidur lebih lama, jalan-jalan, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah. Tapi bagi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG), liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari perjuangan. Inilah momen "healing", tapi tetap gass alias tetap produktif dengan cara yang menyenangkan dan tidak menguras tenaga seperti biasanya. Healing bukan sekadar pelesiran ke tempat wisata, tetapi bagaimana mengistirahatkan pikiran dari tekanan, sekaligus tetap menjaga ritme semangat belajar. Jadi, meski liburan, peserta PPG bisa tetap menyusun rencana, membuka kembali catatan materi, atau mengulas portofolio secara santai. Caranya? Duduk di teras rumah, ditemani secangkir kopi dan suara alam, sambil baca modul atau nonton ulang rekaman perkuliahan. Serius tapi santai, gass tapi tetap healing!. Bagi sebagian peserta, healing justru datang saat bisa berkarya di tengah liburan. Membuat media ajar interaktif, mencoba AI dalam menyusun bahan pe...