Cinta adalah energi paling dasar yang menggerakkan manusia untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Dalam konteks pendidikan, cinta bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, melainkan sikap sadar untuk memanusiakan manusia. Kurikulum Berbasis Cinta lahir dari kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensi uniknya. Peserta didik yang belajar dalam suasana penuh cinta akan merasa dihargai, didengar, dan diterima. Dari perasaan inilah muncul keberanian untuk bertanya, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Cinta mendorong pendidik untuk tidak sekadar menilai hasil, tetapi juga memahami proses dan latar belakang setiap anak. Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan relasi sebagai inti pembelajaran. Relasi antara pendidik dan peserta didik, antara peserta didik dengan sesamanya, se...
Sebagai seorang guru, saya sering kali mendengar keluhan dari orang tua tentang anak-anak mereka yang terlalu sibuk dengan gadget, bahkan saat liburan. Tidak sedikit siswa yang ketika ditanya tentang kegiatan liburannya hanya menjawab, "Main HP, Bu," atau "Nonton YouTube, Pak." Jujur saja, saya merasa prihatin. Padahal, masa liburan adalah waktu yang sangat berharga untuk mengembangkan diri di luar pelajaran sekolah. Karena itu, saat menjelang liburan semester lalu, saya memberikan tantangan kecil kepada para siswa: "Coba habiskan satu hari penuh tanpa gadget!". Saya minta mereka menuliskan pengalaman mereka dan akan kami bahas bersama setelah liburan berakhir. Tak saya sangka, banyak cerita menarik yang muncul. Ada siswa yang menghabiskan hari dengan membantu orang tuanya memasak, ada yang mengajak adiknya bermain tradisional, bahkan ada yang mengunjungi neneknya dan mendengarkan cerita masa lalu. Mereka mengaku awalnya merasa bosan, tapi setelah mencoba,...